Kamu mungkin bukan laki-laki pertama dekat
denganku. Tapi, kamu adalah orang yang membuat aku nyaman dengan kedatanganmu.
Kamu adalah orang yang membuat aku untuk bisa menerima semua keadaanmu,
mencurahkan semua apa terjadi denganku untuk aku bagi denganmu.
Nyaman. Mungkin itu yang aku rasakan ketika
dekat denganmu. Sayang, iya. Tapi sebelum rasa sayang itu tumbuh, aku sudah
nyaman denganmu.
Banyak laki-laki yang dekat denganku, tapi
yang membuat aku nyaman hanya kamu. Patah hati ketika diputus oleh pacar tak
sampai sesakit ketika aku kehilangan kamu. Salah satu sahabat saya pernah
bilang, patah hati untuk pacar ke dua tidak sesakit waktu patah hati dengan
pacar pertama. Tapi itu tidak terjadi denganku. Mungkin patah hati atau sakit
hatiku lebih sakit ditinggal oleh orang yang telah membuat kita nyaman dari
pada ditinggal oleh pacar atau pasangan kita.
Kamu yang telah membuat nyaman, posisimu
lebih dari seorang pacar, sahabat bahkan keluarga. Pacar ada karena adanya
sebuahnya komitmen sehingga kita bisa disebut pacar.
Rasa nyaman itu tumbuh dengan alami. Rasa
yang muncul karena kita mengenal satu sama lain. Mengenal pribadi satu dan
pribadi lainnya, mengenal kebiasaan dan mengenal keluarga atau bahkan tujuan
dan masa depan kita yang tidak semua orang terdekat kita tahu.
Karena kamu hadir di saat yang tepat. Saat
aku membutuhkan sebuah dukungan, motivasi, semangat, tempat curhat dan membuka
sebuah kepercayaan. Kamu selalu ada di sampingku. Mempunyai banyak persamaan
dalam urusan cinta dan asmara, posisi yang sama di keluarga dan harus berjuang
untuk masa depan.
Kadang, aku juga sempat berfikir, kenapa
aku sayang sama kamu, takut kehilangan kamu. Padahal, kamu tidak pernah mengajakku
untuk kebaikan, mungkin itu yang aku rasakan. Kamu jarang ngajak aku sholat, jarang
ngingetin ibadah dan bahkan kamu tidak pernah mengajariku tentang agama, bahkan
kamu bilang kamu tidak bisa mengaji atau yang lainnya. Tapi, kamu mengajari
untuk sesuatu yang baru bagi duniaku. Kamu membuka banyak pikiranku. Banyak pria brengsek yang dekat denganku, tapi mereka masih mengingatkan
untuk sholat.
Kamu benar-benar menjadi malaikat bagiku
ketika aku harus dihadapkan pada masalah skripsi. Kamu yang sering menyemangati
aku dan menemaniku untuk mengengerjakan skripsi itu, membuat aku merasa sangat
sangat nyaman untuk terus bersamamu. Ucapan terima kasih dalam skripsiku yang
tertulis “Senior di manajemen yang selalu mendukung, menyemangati dan mendoakan
penulis agar skripsi ini cepat terselesaikan.” Sebenarnya, tulisan itu aku
tujukan untuk kamu, tapi aku masih ragu untuk menuliskan namamu, karena aku
tahu aku bukan siapa-siapanya kamu. Kamu juga yang banyak berjuang untuk aku,
angkatanku dan juga jurusan untuk banyak hal. Setelah dekat dan mengenal kamu,
aku baru memahami kamu yang ternyata orang yang berani dan mudah emosi. Aku sangat
mengapresiasi akan keberanianmu, tapi untuk emosimu, aku berharap aku bisa
mengobati emosimu, agar kamu bisa menjadi pribadi yang lebih sabar dan lebih
bisa mengendalikan emosimu.
Salah satu yang membuat aku nyaman dengan
kamu adalah aku menemukan orang yang pas denganku ketika aku ajak chatingan atau
ngobrol. Kamu orang yang mempunyai pendidikan yang sama denganku. Mempunyai
pemikiran yang berbeda dalam beberapa hal, misalnya masalah dukungan untuk
calon Presiden, tentang mekhluk halus atau semacamnya, tapi dari perbedaan itu,
menimbulkan sebuah diskusi dengan cara pandang kita masing-masing. Pembawaan
kamu yang cuek, nyantai dan baik serta wawasan kamu cukup luas sehingga aku
merasa menemukan orang yang tepat untuk tempat berkeluh kesah.
Kamu yang sering curhat masalah mantanmu
yang masih menghubungimu, itu membuatku merasa aku dibutuhkan dalam
kehidupanmu. Banyak cerita yang telah kamu ceritakan kepadaku tentang mantanmu
yang perawat itu. Tentang perjuanganmu, tentang kedekatan ibu dan mantanmu itu
yang membuat nyaliku ciut untuk mengambil hati orang tuamu. Begitu pula
dengaku, ketika aku ditinggal menikah oleh cinta pertamaku, saat itu, kamu
hadir menemaniku, menertawakanku, karena kamu juga ditinggal nikah oleh mantan pacarmu
yang adik angkatan itu. Caramu untuk menghiburku saat itu, benar-benar membuat
aku sangat takut akan kehilangan kamu.
Hal yang paling membahagiakan dalam sebuah
hubungan adalah melihat orang yang kita sayang bahagia pula. Saat kamu diterima
kerja dan aku kamu beritahu bahwa kamu ketrima kerja, bagaimana bahagianya
hatiku akhirnya penantian dan usahamu tidak sia-sia. Bahkan ketika kamu merasa
putus asa ketika kamu kehilangan kesempatan untuk meraih sebuah pekerjaan, aku
merasa sedih. Aku berusaha untuk selalu berada didekatmu, untuk selalu
menyemangatimu. Aku ingin agar kamu tidak sendirian, kamu punya sandaran yaitu
aku. Aku siap menjadi tulang rusukmu yang selalu berada di sampingmu dalam
keadaan apapun. Bahkan aku juga aktif untuk mencari informasi tentang
pendaftaran POLISI maupun TNI agar kehidupanmu menjadi lebih baik dan kamu
mempunyai masa depan yang lebih jelas. Kamu juga sering mengirimi broadcast di
BBM tentang lowongan pekerjaan. Dan salah satu lowongan pekerjaan yang kamu
kirim ke aku, ada yang memanggil aku untuk melakukan wawancara, sayang hal ini
kamu tidak aku beri tahu. Maaf ya.
Kamu adalah satu-satunya laki-laki yang
mempertemukan aku dengan kedua orang tuamu. Meskipun itu hanya sebatas pamitan
dan berjabat tangan. Dan kamu juga adalah laki-laki yang selalu aku ceritakan
kepada kedua orang tuaku. Perlu kamu ketahui bahwa aku sangat tertutup masalah
laki-laki ke kedua orang tuaku. Denganmu, aku juga mulai berani untuk
mengenalkan seorang laki-laki ke orang tuaku. Kamu juga yang telah membuat aku
untuk percaya kembali kepada seorang laki-laki untuk masalah uang. Sebelumnya,
aku telah sangat kecewa dengan seorang laki-laki untuk pinjam meminjam uang. Tapi
aku melihat kamu adalah orang yang berbeda. Kamu bisa menepati janjimu. Tapi tidak
untuk janji-janji yang lain.
Banyak yang beranggapan bahwa kita memiliki
wajah yang mirip. Dan banyak pula yang beranggapan bahwa aku adalah pacarmu.
Tapi, banyak pula yang menyayangkan kalau aku berpacaran denganmu. Di sini, aku
ingin menjadi seseorang yang lebih dari seorang adik angkatan untuk kamu. Entah
sebagai seorang sahabat, seorang pacar atau seorang pendamping hidup. Mungkin
ini caraku untuk menyampaikan bahwa aku perhatian denganmu, aku sabar
menghadapi kamu dan aku setia untuk menungumu.
Saat kamu
berbohong tentang kehadiranmu dengan caramu, saat itu aku merasa sangat kecewa
terhadapmu. Tapi setelah kamu hadir dalam acara tersebut dan menemuiku dengan
membawa setangkai bunga, disitu aku merasa tersanjung olehmu. Rasa untuk
melepaskanmu dan kecewa terhadapmu saat itu juga hilang. Yang ada hanya sebuah
senyum lega dan senyum bahagia. Caramu yang membuat surprise yang membuat aku
tersentuh, membuat aku untuk tetap bertahan bersamamu. Bahkan ada yang bilang
bahwa caramu ini merupakan ungkapan rasa sayangmu terhadap aku. Ada juga yang
bilang bahwa kamu itu so sweet telah membuat sebuah rencana seperti itu. Hingga
aku merasa benar-benar nyaman dan bahagia untuk berada bersamamu.
Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk waktumu yang talah kamu sisakan untuk menemaniku, mendukung, menyemangati, mendoakan, menertawakan, membuat aku galau, baper, kecewa, sedih dan menangis. Terima kasih telah menjadi tempat curhat disaat yang genting, disaat benar-benar menbutuhkan masukan, disaat galau dan disaat aku tertimpa maslah. Terima kasih telah mau menerima sifat manjaku, kesalahanku, keegoisanku dan keras kepalaku. Terima kasih telah menjadi teman debat yang kadang suatu masalah itu tidak perlu untuk diperdebatkan. Terima kasih telah menjadi orang yang paling nyebelin untuk aku perjuangkan, aku sayangi dan aku cintai. Terima kasih untuk janji-janji manismu yang sampai saat ini tidak akan terlaksana. Terima kasih telah menbuat aku nangis sekaligus ketawa diwaktu yang bersamaan.
Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk waktumu yang talah kamu sisakan untuk menemaniku, mendukung, menyemangati, mendoakan, menertawakan, membuat aku galau, baper, kecewa, sedih dan menangis. Terima kasih telah menjadi tempat curhat disaat yang genting, disaat benar-benar menbutuhkan masukan, disaat galau dan disaat aku tertimpa maslah. Terima kasih telah mau menerima sifat manjaku, kesalahanku, keegoisanku dan keras kepalaku. Terima kasih telah menjadi teman debat yang kadang suatu masalah itu tidak perlu untuk diperdebatkan. Terima kasih telah menjadi orang yang paling nyebelin untuk aku perjuangkan, aku sayangi dan aku cintai. Terima kasih untuk janji-janji manismu yang sampai saat ini tidak akan terlaksana. Terima kasih telah menbuat aku nangis sekaligus ketawa diwaktu yang bersamaan.
Maaf aku belum bisa untuk membuatmu lebih
baik. Maaf aku banyak merepotkanmu, menyusahkanmu dan membuat kamu dibully oleh
seniormu. Maaf aku belum bisa menemanimu saat kamu terpuruk, maaf aku tidak ada
disampingmu saat kamu tertimpa masalah, maaf aku belum bisa membantumu untuk
mencapai tujuan dan cita-citamu. Maaf aku belum bisa untuk mengerti sifat
aslimu. Maaf aku tidak paham dengan jalan pikiranmu. Dan maaf aku tidak bisa
menghiburmu saat kamu berada di bawah.