Tokyo, Maret 2021
Teruntuk Suamiku Sayang
Ketika kamu membaca tulisan ini, di manapun kamu membaca tulisan ini, aku tidak tahu pasti bagaimana kondisimu saat ini, mungkin kamu sedang marah terhadapku, mungkin kamu sedang kecewa terhadapku atau mungkin juga status kita sudah tidak suami istri lagi. Maafkan aku karena aku lebih memilih keluargaku. Aku selama ini merasa tertekan oleh sifat egoismu, larangan-laranganmu dan perlakuan umimu terhadapku.
Sayang,
andai kita bisa memutar waktu, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Kamu yang
lebih memilih kelompokmu dan meninggalkanku ketika malam hari, itu sangat
menyakitkan buatku. Ketahuilah, aku sering menangis ketika kamu meninggalkanku.
Tapi, cintaku padamu kala itu membuat aku bertahan dan masih tetap mencintaimu.
Di samping itu, aku sangat kecewa terhadap keluargamu, terutama UMImu. Maafkan
aku, aku sudah sakit hati terhadap umimu sayang. Bagiku, Umi hanyalah mertua
yang tidak bisa menghargai kehadiranku di rumahmu. Selama kamu meninggalkanku
di malam hari, kenapa umimu tidak pernah melarangmu pergi sayang? Padahal di
rumahnya ada seorang menantu sebagai istrimu yang harus kamu jaga dan harus
kamu temani, seorang istri yang rela meninggalkan ke dua orang tuanya yang
selalu menjaganya dan memperhatikannya, tetapi diperlakuan seperti itu di rumah
mertuanya?
Sayang, ketika kamu pergi bekerja, aku merasa sangat tertekan. Umimu menganggap seolah kehadiranku tak pernah ada. Ketika kamu pulang kerja, aku selalu menunggumu, menunggu kamu sebagai sandaranku terhadap perlakuan umimu. Tapi, kamu juga seperti itu sayang... Kamu juga mengecewakanku. Aku ingin dimanja, dipeluk, dicium pipi dan keningnya ketika kita berdua, tetapi apa yang aku dapat? Kamu lebih memilih ponselmu dan bermain game online daripada memperhatikanku. Oh iya, kamu selalu memilih duduk di ruang makan, dan ketika aku meminta untuk dicium, kamu selalu beralasan, banyak orang. Di situ hatiku sangat kecewa sayang, sungguh sangat kecewa. Ketika kamu di kamar atas, yang hanya ada aku dan kamu, kamu lebih memilih untuk tidur atau melanjutkan bermain game online dari pada memperhatikanku.
Suamiku
sayang, aku tidak pernah berprasangkan buruk terhadapmu di luar sana. Aku
sangat percaya kepadamu, sayang. Tapi, kepercayaan itu luntur tak kala kamu
sering mengirimkanku chat, bahwa aku bukan wanita yang tepat untuk
mendampingimu. Kamu selalu bilang, bahwa kamu menginginkan wanita pilihan
umimu. Sakit, sakit sayang kamu berkata seperti itu. Di saat rumah tangga kita
sedikit goyah, saat kita tidak satu atap, kamu malah membuat luka lain.
"Mi, kalau istriku tidak mau diajak ke sini, carikan aku istri lagi ya
mi." kalimatmu waktu itu. Duar. Bagai petir di siang hari. Tangisku pecah
seketika itu dihadapanmu. Kamu dengan santainya menenangkanku, menyuruhku
mendekat dan memelukku. Hatiku hancur sehancur hancurnya. Dengan entengnya kamu
berkata bahwa itu hanya bercanda sayang. Bagiku, tidak ada kata bercanda
sayang. Itu sudah sangat menyakitkan. Perkataan bahwa kamu salah dalam
memilihku sering kamu utaran padaku dan berkata bahwa wanita pilihan umimulah
yang terbaik. Tahukah kamu, ketika berkata seperti itu membuatku meneteskan air
mata? Tahukah kamu bagaimana perasaanku kala itu? Aku berpikir kamu tidak
pernah merasa bersalah ketika berkata seperti itu.
Sayangku, aku mencoba bertahan untuk rumah tangga kita. Tapi kamu kembali lagi menghancurkan tembok pertahananku. Ya, aku ingat, 27 Januari kala kamu mengantarku pulang ke rumah orang tuaku, kamu bertemu dengan temannya bapak, dan satu pertanyaan yang terlontar adalah "kamu lebih berat yang mana, istrimu atau kelompokmu?" Jawabanmu sungguh membuatku menangis untuk ke sekian kalinya. Kamu menjawab bahwa kamu tidak bisa memilih antara aku atau kelompokmu. Seberat itukah kamu mau menerima kehadiranku? Setega itukah kamu terhadapku? Sayang, ketahuilah bahwa aku manusia bisa. Yang mempunyai rasa sabar yang terbatas, yang mempunyai rasa sayang yang bisa memudar.
Seiring
berjalannya waktu, aku merasa rasa perhatian dan kasih sayangmu padaku semakin
kecil dan semakin memudar. Aku ingin kamu yang dulu suamiku, seorang yang
selalu perhatian, pulang kerja langsung pulang ke rumahku, menemaniku memasak
dan tidak mau berpisah dan jauh
dariku. Sungguh, aku sangat merindukan hal itu. Tapi, aku tidak tahu ada apa denganmu. Apakah kamu
juga memiliki perasaan yang sama terhadapku juga? Atau malah kamu ingin
menjauhiku dan menyiksa batinku saja? Karena itu yang aku rasakan sayang.
Hal yang paling membuat aku sangat kecewa adalah ketika kamu membatasi seluruh ruang gerakku. Kamu melarangku menyapa orang yang aku kenal, padahal orang tersebut masih saudara denganku, kamu melarangku bertemu dengan teman-temanku dan kamu juga melarangku untuk menemui tamu yang datang ke rumahku. Bahkan kamu juga melarangku menggunakan baju yang aku sukai.
Satu
bulan lebih kita tidak bertemu, kamu tidak ada niatan untuk datang menemuiku.
Oh tidak, dua atau tiga hari tidak bertemu denganku, sikap kamu sudah berubah,
tidak ada rasa kangen padaku, tidak ada niatan untuk menghubungiku, yang ada hanya
chat ancaman dan kemarahanmu saja.
Sayang, janjimu yang telah kamu tepati setelah menikah adalah kamu tidak akan mengajakku ke makam lagi. Aku kira kamu masih mengingat waktu kita akan pulang setelah selesai jalan-jalan ke sebuah tempat wisata, kamu berkata, "Sayang, setengah perjalanan lagi kita sudah sampai di Makam. Ayo kita ke sana?" Kemudian aku menjawab "Iya, boleh, tapi ini untuk terakhir kalinya kamu mengajakku ke Makam tersebut?". Kamu menimpali dengan, "Iya sayang, aku janji, ini yang terakhir kalinya aku mengajakmu ke Makam, setelah ini, kamu tidak akan aku ajak ke makam lagi."
Tetapi sayang, aku juga merasa bahagia bila kamu
sering mengajakku ke tempat-tempat yang belum pernah aku datangi. Mengenalkanku
kepada saudara-saudaramu. Memelukku dari belakang, dan memasang masker wajah
ketika malam hari itu merupakan bentuk kasih sayangmu terhadapku. Aku sangat
merindukan hal itu sayang.
Jujur sayang, aku bingung terhadap sikapmu yang sering berubah-ubah dan janji-janji manismu. Perkataanmu yang bisa setiap menit berganti dan tanpa pendirian yang pasti membuatku pusing menyikapi sikapmu tersebut. Apalagi tentang karir dan pekerjaanku. Hari ini kamu berkata, oke, silakan kerja. Besok kamu berkata, "ngapain kamu kerja? Kan aku udah kerja?". Besoknya lagi kamu berkata, "ya udah, kamu kerja aja."
Sayang,
maafkanlah aku, ketika ajakanmu dan keluargamu untuk mengajakku jalan-jalan
tidak mendapat ijin dari bapakku. Ketahuilah sayang, saat itu, aku sangat
kecewa, kecewa berat terhadapmu.
Bagiku saat itu, sandaranku hanyalah orang tuaku. Selama beberapa hari kamu
meninggalkanku di rumah orang tuaku, chatmu sering mengecewakanku, mengancamku
untuk menceraikanku dan memilih wanita pilihan umimu. Sampaikan maafku juga
untuk seluruh keluargamu, kalau tidak dimaafkan juga gak papa sayang, aku sudah
menerimanya bahkan dihina juga aku sudah siap.
Sayangku, maafkan aku karena belum bisa menjadi istri yang seperti kamu minta. Maafkan aku yang selalu cerewet terhadapmu, yang mempunyai pikiran-pikiran yang tidak sejalan dengamu, yang sering ingin dimanja olehmu. Maafkan aku yang selalu menuntut perhatian darimu. Ketahuilah sayang, aku dibesarkan oleh kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuaku, kakakku dan kakak iparku. Aku yang hidup tanpa kekurangan perhatian dan kasih sayang, yang selalu dimanja oleh orang tuaku dan tidak pernah mendapat hardikan dari orang tuaku.
Aku
tahu sayang, kita dibesarkan dari lingkungan yang berbeda, pola pikir yang
berbeda, pergaulan yang berbeda (aku suka ngemall dan kamu suka kuburan), pendidikan
yang berbeda dan kasih sayang dari orang tua yang berbeda. Sayang, bapak dan
ibu sangat menyayangimu, melebihi mereka menyayangiku. Ibu lebih memilihmu dari
pada aku anaknya sendiri. Tapi, kasih sayang mereka hilang seketika ketika
mereka mengetahui sikapmu terhadapku dan ketika kamu tidak mau untuk pulang ke
rumahku. Bapak sudah menyiapkan semuanya untuk kita sayang. Bahkan, bapak juga
masih siap ketika kamu harus keluar dari tempatmu
bekerja, asalkan kita bisa tetap rukun dan
bersama-sama.
Orang tuaku yang dulu menyayangimu, sekarang kecewa berat terhadap sikap dan perilakumu. Kamu yang meninggalkanku ketika aku sakit dan tanpa pamit ke orang tuaku, membuat orang tuaku tersakiti dan tidak bisa menerimamu kembali.
Sayangku,
terima kasih telah menerima segala kekuranganku. Terima kasih telah
menyayangiku. Dan terima kasih menganggap bapakku seperti bapak kamu.
Sayang, kamu orang yang baik, orang yang pernah aku sayangi, selama aku tidak di sampingmu untuk menemanimu, aku berharap kamu tetap bisa menjaga kesehatanmu, bisa memegang janji-janjimu. Meskipun janjimu padaku hanya sebatas dibibir dan di chat saja. Aku sangat berharap, ketika kamu nanti menemukan wanita lain, aku harap kamu lebih perhatian lagi, lebih menyayangi dia lagi, dan lebih menghargainya lagi.
Sayang,
kamu harus tahu, saat aku menulis ini, keadaanku sedang menanti kedatanganmu,
menanti sentuhan lembutmu dan bisikan romantismu. Kangen? Iya aku kangen kamu
sangat kangen sekali. Tiap malam, aku berharap aku bisa tidur dipelukanmu. Bermimpi
indah bersama dengamu.
Sayang, Terima kasih telah menjadi orang yang mau membimbingku dan menuntunku untuk menyempurnakan agamaku. Terima kasih telah mau aku repotkan selama ini.
Allah
telah menakdirkan kita untuk bersama dan apabila Allah menghendaki kita untuk
berpisah, insya Allah aku akan ikhlas. Meski raga kita berpisah, aku berharap
dalam hatimu tetap terukir namaku. Mungkin jodoh kita di dunia sampai sini.
Semoga aku bisa menjadi bidadari surgamu sayangku.
Salam
sayang,
BIDADARI SURGAMU