Pesan
untuk semua pembaca, ini adalah sebuah pengalaman, jadi mohon tidak berpikiran
negatif dan menganggap semua pekerjaan sama. Jadi, mohon ini hanya dijadikan
sebagai cerita dan hiburan saja. Di luar sana, pekerjaan adalah hal yang
menyenangkan, banyak ilmu yang didapat dan karir yang menjanjikan. Selamat
membaca.
Sebelum, head accountingku
keluar, daku sudah sedikit banyak membantu pekerjaan PPIC (Alm. Kepercayaan Bos).
Beliau kurang mahir dalam pengoperasian komputer, jadi kalau ada yang
berhubungan dengan komputer, beliau minta tolong padaku. Awal-awal daku
dimintai tolong, masih oke, karena beban kerjaku masih sedikit dan kondisi
kantor masih kondusif. Awalnya daku hanya membantu dalam perhitungan HPP saja,
lama kelamaan daku menjadi sekretarisnya beliau setelah head accounting dan
head marketing keluar, karena beliau adalah kepercayaan bos yang tersisa.
Baiklah, mari kita mulaaaaiiii......
Ketika head accounting dan
head marketing keluar, keadaan sedikit menjadi pincang. Suasana kantor yang
sudah pincang, ditambah lagi bos yang membuka cabang pabrik dengan produk yang
berbeda. Jadilah beliau keliling ke tiga tempat yang berbeda. Kondisi beliau
yang sering sakit membuat kinerjanya tidak maksimal. Tetapi, bos tidak mau tahu
akan tersebut, dan selalu menyuruh beliau untuk mengcover semuanya. Hal sangat
terasa ketika head accounting keluar dan mulai dilakukan pemangkasan
perngeluaran operasional. Daaaannnn salah satu staf operasional keluar. Oke,
hal ini masih bisa dihandle oleh beberapa staf lainnya. Dan tentu saja berimbas
kepadaku. Ya, mulai keluarnya salah satu staf ini, daku harus membuat laporan
setiap minggunya tentang biaya operasional kantor dan ini tidak hanya kantorku
saja, tetapi beberapa cabangnya juga, harus laporan padaku dan daku harus
mengolahnya. Oke, ini masih bisa daku kerjakan.
Mendekati akhir tahun, bos
mengubah semua spesifikasi produknya. Daku disuruh untuk menghitung semuanya.
Gila. Daku harus mencocokkan harga bahan baku dengan kepala bagian bahan baku,
dan harga yang mereka dapat juga sering terdapat selisih dengan bagian
utang-piutang. Pusing? Pastinya. Belum lagi bahan baku dan jumlah yang
digunakan juga berbeda antara PPIC dan kepala produksi di pabrik. Jadi, daku
bingung, antara PPIC atau kepala produksinya. Setelah itu dirasa fiks, beliau
maju pada bos, dan bos main oke oke saja. Dari HPP yang telah daku kerjakan,
jadilah harga pricelist yang diedarkan ke toko-toko dan customer. Selama
mengerjakan hal ini, daku sampai sakit. Kenapa? Daku merasa selalu
disalah-salahkan, padahal daku hanya membantunya saja. Daku selalu laporan
dengan baliau, tentang progresnya. Dan jujur, saat mengerjakan daku mengalami
salah paham soal harga. Kenapa? Karena harga yang telah tertulis, menurut daku
itu adalah harga pricelist, ternyata, itu harga HPP nya, dan masih harus di up
lagi. Sedangkan harga yang telah aku buat sudah menyebar pada sales dan yang
lainnya. Untungnya daku segera membetulakan dan cepat selesai permasalahan
pricelist tersebut.
Ini adalah sedikit perhitungan HPP yang daku kerjakan. Hampir tiap hari revisi HPP kan? Capek daku ini 😫ðŸ˜
Next, masalah
selanjutnya......
Daku sudah mulai memahami
dan mengerti job disk daku di kantor yeee. Daku sudah mulai membuat prioritas
dan jadwal pekerjaan kantor daku, tetapi tiba-tiba datang sebuah masalah, hap, daku
kena getahnya (bacanya dilarang sambil nyanyi ya.... hahaha). Masih ingat staf
bagian operasional yang telah keluar? Yups, karena beberapa pekerjaannya
diberikan kepada salah seorang staf gaji dan stok, sehingga dia mulai
keteteran, jadilah bagian gaji dipindahtangankan pada daku. It’s oke (awalnya).
Mengerjakan gajian mingguan, awalnya masih mulus, karena masih dibantu dan
diajari oleh staf dan tanpa ada yang komplen. Mengerjakan gaji bulanan? Awalnya
baik. Ujung-ujungnya???? Banyak nyeseknya. Kenapa? Karena menurut daku, daku
berusaha adil dan sangat berhati-hati dalam mengerjakannya, mengapa? Karena
daku mengetahui, soal money sangat sensitif dan kurang serupiahpun ditagih
sampek ke neraka booosss. Ngeri deeeh kalau sama anak produksi. Masalahnya di
mana? Masalahnya ada di atasan yang mengerjakan final dari gaji ini. Dulu, yang
mengerjakan final gaji ini adalah head accounting, setelah keluar yang
mengerjakan adalah bapak kepercayaan bos ini. Dan sering salah dalam
mengerjakan gaji anak produksi. Anak produksi komplennya kemana? Ke daku lah.
Kesel? Iya. Pingin marah? Iya. Bisa marah sama anak produksi? Tidak. Pingin
marah sama yang mengerjakan gaji? Oh... tentu saja tidak bisa dan tidak berani.
Daku hanya butiran debu kantor yang harus menerima semuanya dengan senyum
ceria.
Setelah mereka komplen
masalah gaji pada daku, daku majulah pada bapaknya (bos aka pemilik perusahaan), dan beliau hanya tersenyum
dan berkata “iya ta? Bentar tak lihat e. Hahaha. Iya, aku yang salah. Nanti
minta pada bagian opersional uang kurangnya gaji ya.” Yaaah, begitulah entengnya
beliau berbicara. Hatiku membatin “Ya Allah, enak ya pak, hanya berkata dengan
entengnya seperti itu, ini mata indahku seperti ingin mengeluarkan banjir
bandang saat dikomplen anak produksi.” Jujur ya, daku punya mental yang cemen.
Daku sering sedih kalau dimarahi, karena daku jarang buat masalah di rumah dan
orang tua daku jarang marah sama daku. Jadi, ketika dimarihi, berarti kesalahan
daku sudah fatal dan levelnya sudah parah. Sedagankan pada gaji anak produksi
kan bukan salah daku? Oke, dan masalah gaji sering terjadi dan selalu
terselesaikan. Masalah selesai? Oh, tentu saja beluuummmm
Kita lanjoooooot (pake
gaya Ariel Noah yaaaa)
Permasalahan selanjutnya adalah berhubungan dengan
Instansi Pemerintahan. Jujur, awalnya daku tidak terlibat secara langsung
seperti pajak itu, tetapi, ini adalah warisan yang telah ada sebelumnya. Awal
dari masalah ini adalah adanya sidak secara tiba-tiba dari salah satu Instansi
Pemerintah. Saat datang, awalnya tidak ada yang mau menemui, tetapi akhirnya
ditemui juga oleh tangan kanan bos. Ya, ternyata banyak pelanggaran yang telah
dilakukan oleh perusahaan ini. Di sinilah keterlibatan daku. Karena daku
mengerti tentang internet dan menjadi sekretarisnya, mau tidak mau daku yang
mengerjakannya. Mulai dari mengeprint apa yang telah beliau kirim dan harus
mempelajarinya. Untungnya, apa yang harus diisi beliau yang mengisi, daku hanya
membantu pengoperasian pada websitenya. Selesai? Sepertinya sudah. Mengapa?
Karena hal ini diketahui setelah beliau meninggal dunia.
Lanjuuut masalah dengan instansi pemerintah
selanjutnya. Instansi ini sekarang lagi heboh dipemberitaan. Masalah ini
sebenarnya sudah ada sejak dulu, ini adalah masalah warisan yang belum menemui
penyelesaiannya, hingga daku keluar, daku tak tahu lagi. Ini adalah masalah
pembayaran yang tidak pernah dibayar oleh perusahaan
(kalau tidak salah pernah dibayar oleh orang finance yang sudah almarhum.
Selama daku bekerja, daku tidak pernah mengetahui tentang pembayaran ke
instansi tersebut). Head
Accounting dulu pernah menyelesaikannya, tetapi tidak sampai tuntas. Sampai
akhirnya, daku disuruh oleh beliau untuk ke kantornya dan meminta data-data
dengan alasan pegawai pertama yang mengurusi masalah ini sudah meninggal dunia
dan pegawai selanjutnya sudah resign. Akhirnya daku memperoleh datanya.
Sesampai di kantor, daku laporanlah pada beliau. Dan, apa kata beliau? Ya kamu
laporan sendiri pada bapaknya (bos atau pemilik perusahaan). Wahaaaat??? Hello
pak, daku sudah membantu pekerjaan anda, tetapi, anda malah menjerumuskan daku?
Ya Allah. Sudahlah, akhirnya daku maju, dan bos malah cuek. Ya sudahlah. Daku
juga gak tau lagi maslahnya sekarang. Selama perusahaan mendapat
email dari perusahaan tersebut, daku selalu laporan dan selalu daku printkan
email tersebut. Dan hanya dibaca saja. Duuuh Gustiiiii....
Itu adalah cerita pengantar yang akan banyak
menimbulkan masalah dikemudian cerita. Masalah yang paling rumit adalah masalah
yang berhubungan dengan Instansi Pemerintah. Mengapa? Karena apabila kita salah
sedikit dalam bertindak, maka sudah, hancur sudah. Tetapi, sebenarnya kalau
kita patuh dan taat terhadap jalur yang sesuai dengan SOP pemerintah, maka akan
sangat mudah dan lancar. Balik lagi sih sebenarnya, kita hanya bawahan yang
hanya bisa menurut apa kata atasan dan bos jadi ya begitulah.
Selama mengurusi masalah
dari Instansi Pemerintah, daku juga harus terus berkutat dengan HPP. Harga
bahan baku yang terus naik, daku harus merubah banyak harga dan komposisi dari
produknya juga dirubah-rubah oleh bos. Puyeeenggg kaaaan???
Salah satu masalah yang
tidak daku pegang adalah masalah harga produk dan marketing. Sampai beliau
menutup mata, beliau masih meninggalakan begitu banyak masalah yang belum
terselesaikan di perusahaan.
Semoga beliau tenang di
surga dan perusahaan mendapat ganti seseorang yang profesional yang bisa
mengatasi masalah yang ada di perusahan.
Cerita ini hanya uraian
dari hati yang terdalam. Cerita yang tidak dapat disampaikan secara langsung
oleh pihak terkait karena bila kita bersuara, akan terjadi di part 4. Yang
mencurahkan isi hati ketika ditinggal oleh beliau.
Neeeeeexxxxtttt
Lanjut part 4? Yakin, masih
mau membaca??? Masih kuat? Masih penasaran???

