Rabu, 25 September 2019

PENGALAMAN MENJADI STAF SERABUTAN PART 3 Bagian Sekretaris Alm. Kepercayaan Bos

Pesan untuk semua pembaca, ini adalah sebuah pengalaman, jadi mohon tidak berpikiran negatif dan menganggap semua pekerjaan sama. Jadi, mohon ini hanya dijadikan sebagai cerita dan hiburan saja. Di luar sana, pekerjaan adalah hal yang menyenangkan, banyak ilmu yang didapat dan karir yang menjanjikan. Selamat membaca.

Sebelum, head accountingku keluar, daku sudah sedikit banyak membantu pekerjaan PPIC (Alm. Kepercayaan Bos). Beliau kurang mahir dalam pengoperasian komputer, jadi kalau ada yang berhubungan dengan komputer, beliau minta tolong padaku. Awal-awal daku dimintai tolong, masih oke, karena beban kerjaku masih sedikit dan kondisi kantor masih kondusif. Awalnya daku hanya membantu dalam perhitungan HPP saja, lama kelamaan daku menjadi sekretarisnya beliau setelah head accounting dan head marketing keluar, karena beliau adalah kepercayaan bos yang tersisa. Baiklah, mari kita mulaaaaiiii......

Ketika head accounting dan head marketing keluar, keadaan sedikit menjadi pincang. Suasana kantor yang sudah pincang, ditambah lagi bos yang membuka cabang pabrik dengan produk yang berbeda. Jadilah beliau keliling ke tiga tempat yang berbeda. Kondisi beliau yang sering sakit membuat kinerjanya tidak maksimal. Tetapi, bos tidak mau tahu akan tersebut, dan selalu menyuruh beliau untuk mengcover semuanya. Hal sangat terasa ketika head accounting keluar dan mulai dilakukan pemangkasan perngeluaran operasional. Daaaannnn salah satu staf operasional keluar. Oke, hal ini masih bisa dihandle oleh beberapa staf lainnya. Dan tentu saja berimbas kepadaku. Ya, mulai keluarnya salah satu staf ini, daku harus membuat laporan setiap minggunya tentang biaya operasional kantor dan ini tidak hanya kantorku saja, tetapi beberapa cabangnya juga, harus laporan padaku dan daku harus mengolahnya. Oke, ini masih bisa daku kerjakan. 

Mendekati akhir tahun, bos mengubah semua spesifikasi produknya. Daku disuruh untuk menghitung semuanya. Gila. Daku harus mencocokkan harga bahan baku dengan kepala bagian bahan baku, dan harga yang mereka dapat juga sering terdapat selisih dengan bagian utang-piutang. Pusing? Pastinya. Belum lagi bahan baku dan jumlah yang digunakan juga berbeda antara PPIC dan kepala produksi di pabrik. Jadi, daku bingung, antara PPIC atau kepala produksinya. Setelah itu dirasa fiks, beliau maju pada bos, dan bos main oke oke saja. Dari HPP yang telah daku kerjakan, jadilah harga pricelist yang diedarkan ke toko-toko dan customer. Selama mengerjakan hal ini, daku sampai sakit. Kenapa? Daku merasa selalu disalah-salahkan, padahal daku hanya membantunya saja. Daku selalu laporan dengan baliau, tentang progresnya. Dan jujur, saat mengerjakan daku mengalami salah paham soal harga. Kenapa? Karena harga yang telah tertulis, menurut daku itu adalah harga pricelist, ternyata, itu harga HPP nya, dan masih harus di up lagi. Sedangkan harga yang telah aku buat sudah menyebar pada sales dan yang lainnya. Untungnya daku segera membetulakan dan cepat selesai permasalahan pricelist tersebut. 

Ini adalah sedikit perhitungan HPP yang daku kerjakan. Hampir tiap hari revisi HPP kan? Capek daku ini 😫😭

Next, masalah selanjutnya......
Daku sudah mulai memahami dan mengerti job disk daku di kantor yeee. Daku sudah mulai membuat prioritas dan jadwal pekerjaan kantor daku, tetapi tiba-tiba datang sebuah masalah, hap, daku kena getahnya (bacanya dilarang sambil nyanyi ya.... hahaha). Masih ingat staf bagian operasional yang telah keluar? Yups, karena beberapa pekerjaannya diberikan kepada salah seorang staf gaji dan stok, sehingga dia mulai keteteran, jadilah bagian gaji dipindahtangankan pada daku. It’s oke (awalnya). Mengerjakan gajian mingguan, awalnya masih mulus, karena masih dibantu dan diajari oleh staf dan tanpa ada yang komplen. Mengerjakan gaji bulanan? Awalnya baik. Ujung-ujungnya???? Banyak nyeseknya. Kenapa? Karena menurut daku, daku berusaha adil dan sangat berhati-hati dalam mengerjakannya, mengapa? Karena daku mengetahui, soal money sangat sensitif dan kurang serupiahpun ditagih sampek ke neraka booosss. Ngeri deeeh kalau sama anak produksi. Masalahnya di mana? Masalahnya ada di atasan yang mengerjakan final dari gaji ini. Dulu, yang mengerjakan final gaji ini adalah head accounting, setelah keluar yang mengerjakan adalah bapak kepercayaan bos ini. Dan sering salah dalam mengerjakan gaji anak produksi. Anak produksi komplennya kemana? Ke daku lah. Kesel? Iya. Pingin marah? Iya. Bisa marah sama anak produksi? Tidak. Pingin marah sama yang mengerjakan gaji? Oh... tentu saja tidak bisa dan tidak berani. Daku hanya butiran debu kantor yang harus menerima semuanya dengan senyum ceria.

Setelah mereka komplen masalah gaji pada daku, daku majulah pada bapaknya (bos aka pemilik perusahaan), dan beliau hanya tersenyum dan berkata “iya ta? Bentar tak lihat e. Hahaha. Iya, aku yang salah. Nanti minta pada bagian opersional uang kurangnya gaji ya.” Yaaah, begitulah entengnya beliau berbicara. Hatiku membatin “Ya Allah, enak ya pak, hanya berkata dengan entengnya seperti itu, ini mata indahku seperti ingin mengeluarkan banjir bandang saat dikomplen anak produksi.” Jujur ya, daku punya mental yang cemen. Daku sering sedih kalau dimarahi, karena daku jarang buat masalah di rumah dan orang tua daku jarang marah sama daku. Jadi, ketika dimarihi, berarti kesalahan daku sudah fatal dan levelnya sudah parah. Sedagankan pada gaji anak produksi kan bukan salah daku? Oke, dan masalah gaji sering terjadi dan selalu terselesaikan. Masalah selesai? Oh, tentu saja beluuummmm
Kita lanjoooooot (pake gaya Ariel Noah yaaaa)

Permasalahan selanjutnya adalah berhubungan dengan Instansi Pemerintahan. Jujur, awalnya daku tidak terlibat secara langsung seperti pajak itu, tetapi, ini adalah warisan yang telah ada sebelumnya. Awal dari masalah ini adalah adanya sidak secara tiba-tiba dari salah satu Instansi Pemerintah. Saat datang, awalnya tidak ada yang mau menemui, tetapi akhirnya ditemui juga oleh tangan kanan bos. Ya, ternyata banyak pelanggaran yang telah dilakukan oleh perusahaan ini. Di sinilah keterlibatan daku. Karena daku mengerti tentang internet dan menjadi sekretarisnya, mau tidak mau daku yang mengerjakannya. Mulai dari mengeprint apa yang telah beliau kirim dan harus mempelajarinya. Untungnya, apa yang harus diisi beliau yang mengisi, daku hanya membantu pengoperasian pada websitenya. Selesai? Sepertinya sudah. Mengapa? Karena hal ini diketahui setelah beliau meninggal dunia.

Lanjuuut masalah dengan instansi pemerintah selanjutnya. Instansi ini sekarang lagi heboh dipemberitaan. Masalah ini sebenarnya sudah ada sejak dulu, ini adalah masalah warisan yang belum menemui penyelesaiannya, hingga daku keluar, daku tak tahu lagi. Ini adalah masalah pembayaran yang tidak pernah dibayar oleh perusahaan (kalau tidak salah pernah dibayar oleh orang finance yang sudah almarhum. Selama daku bekerja, daku tidak pernah mengetahui tentang pembayaran ke instansi tersebut). Head Accounting dulu pernah menyelesaikannya, tetapi tidak sampai tuntas. Sampai akhirnya, daku disuruh oleh beliau untuk ke kantornya dan meminta data-data dengan alasan pegawai pertama yang mengurusi masalah ini sudah meninggal dunia dan pegawai selanjutnya sudah resign. Akhirnya daku memperoleh datanya. Sesampai di kantor, daku laporanlah pada beliau. Dan, apa kata beliau? Ya kamu laporan sendiri pada bapaknya (bos atau pemilik perusahaan). Wahaaaat??? Hello pak, daku sudah membantu pekerjaan anda, tetapi, anda malah menjerumuskan daku? Ya Allah. Sudahlah, akhirnya daku maju, dan bos malah cuek. Ya sudahlah. Daku juga gak tau lagi maslahnya sekarang. Selama perusahaan mendapat email dari perusahaan tersebut, daku selalu laporan dan selalu daku printkan email tersebut. Dan hanya dibaca saja. Duuuh Gustiiiii....

Itu adalah cerita pengantar yang akan banyak menimbulkan masalah dikemudian cerita. Masalah yang paling rumit adalah masalah yang berhubungan dengan Instansi Pemerintah. Mengapa? Karena apabila kita salah sedikit dalam bertindak, maka sudah, hancur sudah. Tetapi, sebenarnya kalau kita patuh dan taat terhadap jalur yang sesuai dengan SOP pemerintah, maka akan sangat mudah dan lancar. Balik lagi sih sebenarnya, kita hanya bawahan yang hanya bisa menurut apa kata atasan dan bos jadi ya begitulah.

Selama mengurusi masalah dari Instansi Pemerintah, daku juga harus terus berkutat dengan HPP. Harga bahan baku yang terus naik, daku harus merubah banyak harga dan komposisi dari produknya juga dirubah-rubah oleh bos. Puyeeenggg kaaaan???

Salah satu masalah yang tidak daku pegang adalah masalah harga produk dan marketing. Sampai beliau menutup mata, beliau masih meninggalakan begitu banyak masalah yang belum terselesaikan di perusahaan.

Semoga beliau tenang di surga dan perusahaan mendapat ganti seseorang yang profesional yang bisa mengatasi masalah yang ada di perusahan.

Cerita ini hanya uraian dari hati yang terdalam. Cerita yang tidak dapat disampaikan secara langsung oleh pihak terkait karena bila kita bersuara, akan terjadi di part 4. Yang mencurahkan isi hati ketika ditinggal oleh beliau.

Neeeeeexxxxtttt 

Lanjut part 4? Yakin, masih mau membaca??? Masih kuat? Masih penasaran???

Rabu, 04 September 2019

PENGALAMAN MENJADI STAF SERABUTAN PART 2 Bagian Pajak dan Accounting

Pesan untuk semua pembaca, ini adalah sebuah pengalaman, jadi mohon tidak berpikiran negatif dan menganggap semua pekerjaan tentang perpajakan dan accounting itu seperti yang telah diceritakan. Jadi, mohon ini hanya dijadikan sebagai cerita dan hiburan saja. Di luar sana, pekerjaan bagian pajak dan accounting adalah pekerjaan yang menyenangkan, banyak ilmu yang didapt dan karir yang menjanjikan. Selamat membaca. 

Kali ini aku akan menyelesaikan lanjutan dari cerita yang dari Part 1. Yang akan dibahas kali ini adalah kenapa banyak atasan yang resign. Ini cerita yang lumayan membuat gregetan dan menguras pikiran. Karena sejak saat itu, aku mulai menghandle beberapa pekerjaan beliau-beliau.

Setelah hari raya Idul Fitri, barulah satu persatu atasan mulai meninggalkan kantor. Rata-rata mereka sudah tidak kuat untuk menerima beban dan tekanan yang berada di perusahaan tersebut. Yang pertama keluar adalah Head Accounting. Kehilangan besar buat aku. Perlu diketahui, aku di sana itu baru beberapa bulan, dan belum menguasai dan memahami betul apa yang harus aku  kerjakan. Tapi, tiba tiba harus ditinggalkan???? Sakiiit, tapi tak berdarah. Ibarat ditinggalkan pacar, ini lebih sakit lagi. Ilmu yang beliau ajarkan juga aku belum paham betul. Beliau hanya mengajari sekali dua kali saja. Alasan beliau keluar, aku sebenarnya sedikit paham, yaitu beliau kurang dihargai oleh bawahannya dan sering disuruh-suruh oleh bawahannya, terutama salah seorang karyawan senior. Padahal kalau ada apa-apa tentang masalah keuangan dan pihak eksternal, beliaulah yang menyelesaikan. Selain itu, pimpinan juga sering lepas tangan kalau ada masalah dengan pajak dan tekanan yang diberikan oleh beliau juga besar. Masalah di kantor yang setiap hari semakin besar dan saudara beliau yang meninggal dunia dan mempunyai sebuah pabrik, maka sangat kuat buat beliau meninggalkan pabrik ini.

Sebelum beliau keluar kantor tanpa pamit dan pesan, beliau mengajariku sedikit ilmu, tetapi aku tidak mengerti sama sekali. Aku hanya mengerti cara memasukkan data pada e-SPT PPh 21 dan input data pada e-faktur. Itu pun aku harus menulisnya dan beliau mengajariku beberapa kali, aku baru bisa. Sedangkan untuk perhitugan PPh 21, aku bahkan hanya diajarkan beberapa kali dan selebihnya aku harus belajar sendiri. Untuk menghitung PPH 21, aku hanya disuruh mengirim file yang dibutuhkan kemudian beliau yang mengolahnya. File yang telah aku kirim merupakan file yang telah aku olah dari bagian operasional. Untuk mengolah file tersebut, aku belajar dari file bulan sebelumnya dan beberapa file yang telah beliau berikan padaku. Untuk data yang harus dimasukkan dalam e-SPT beliau sudah memberi tanda pada file yang dikirim padaku. Dari file itulah, aku belajar sedikit demi sedikit dan akhirnya mengerti. Alhamdulillah.

Sedangkan untuk aplikasi e-faktur aku sudah sedikit lebih paham. Meskipun saat berjalannya waktu, banyak perubahan pada e-faktur dan aturan pada e-faktur juga diperketat. Untuk menghitung PPN aku hanya dibimbing lewat sebuah WA, dan disuruh mempelajari sendiri file dari bulan sebelumnya. Mengapa? Karena beliau belum sempat untuk mengajariku perhitungannya, jadinya harus lewat WA. Oke, untuk masalah perhitungan PPN sudah beres. Apakah masalah PPN sudah teratasi? Tentu saja belum. Pada bulan 10 kalau gak salah, leptop yang aku gunakan rusak, dan akhirnya aplikasi e-fakturnya tidak bisa digunakan. Mampus.

Solusinya? Aku disuruh oleh mantan Head Accountingku untuk meminta aplikasi lagi ke kantor pajak. Oke. Selesai? Tentu saja ini hanya sementara saja. Karena diemailnya phasspresnya (aku lupa namanya. Untuk orang pajak, maaf yaa, dan bisa dibenarkan di kolom komentar ya guuysss). Dan untuk sementara diisi semuanya Nol-nol dan nanti dibetulkan.

Baik, kita tinggalkan bagian PPN. Selama aku di sana, hatiku setiap hari dag dig dug duuuaaaar. Kenapa? Karena aku takut kalau dapat surat cinta dari Kantor Pajak. Why? Karena aku gak ngerti apa-apa tentang pajak dan perhitungannya. Syeeeediiiih saaaay.
Daaaaaaan

Hal yang aku khawatirkan terjadi. Aku (lebih tepatnya perusahaan) mendapatkan surat cinta, dan isinya aku juga tidak mengerti. Oke, aku menghadap pada pimpinan dan apa kata beliau? Sudah mbak gampang, hubungi mantan head accounting, nanti saya juga ada orang yang bagian bantu ngurusi pajak. Oke, laksanakan. Apa kata head accounting? Datang aja ke kantor pajak mbak, kemudian temui AR nya. Oke, siap. Setelah menemui AR, aku semakin bingung dan semakin tidak mengerti, ya karena aku gak tau awal ceritanya. Yang mengerjakan kan bukan aku, aku gak mengerti apa-apa tentang laporan SPT Tahunan Badan (FYI : Aku lulusan Manajemen, dan untuk kuliah pajak hanya teori saja dan aku juga kurang paham masalah pajak hahaha). Ngeluuuu boooosssss. Dan itu nilai selisih antara SPT yang dikerjakan oleh perusahaan dan Audit AR digitnya banyak. Ini adalah salah satu alasan aku untuk mengundurkan diri.

Aku bercerita masalah kerjaanku pada salah seorang teman kantorku yang seumuran, dan dia hanya bilang, kamu itu sudah nyemplung, dan sudah nyemplung keseluruhan, sudah basah kuyup semuanya. Sudah aku tidak bisa berpikir dengan jernih dan hanya air mataku yang menetes deras. Karena bos juga sepertinya menganggap enteng masalah ini. Setiap diajak ngomong masalah pajak, selalu ya sudah mbak, urus sendiri, hubungi pak ini, pak itu.

Kalau menghubungi mantan head accounting, jujur aku merasa risih, mengapa? Karena orang tersebut sudah tidak ada hubungannya dengan perusahaanku dan aku merasa tidak enak untuk terus meminta bantuan padanya. Beliau juga sudah memiliki kesibukan sendiri. Sedangkan teman kerja sekaligus tangan kanannya bos bilang, itu urusanmu, dan aku gak mau mengurusi masalah itu. Deeeeeerrrrr. Maaammmmpuuuuuussss lah diriku.

Sekali lagi, untuk pembaca, ini adalah pengalaman pribadi dan mencoba untuk dishare, di luar sana pekerjaan bagian pajak dan accounting adalah pekerjaan yang baik, menyenangkan, banyak ilmu yang baru dan karir yang lumayan menjanjikan. Kalau ada kesempatan, penulis juga berkeinginan untuk melanjutan pendidikan di bidang pajak dan bekerja di bagian pajak dan accounting. Dan penulis juga tidak pernah bermaksud merendahkan dan memandang sebelah mata sebuah pekerjaan. Terima kasih telah membaca. Sekali ini hanya berbagi pengalaman. Lanjut Part 3...