Sabtu, 18 Desember 2021

SURAT TERBUKA UNTUK MANTAN SUAMIKU

Teruntuk pembaca:

Tulisan ini ditulis sebagai terapi karena penulis tidak tahu harus mencurahkan isi hati dan pikirannya pada siapa. Jadi, nikmati tulisan ini sebagai sebuah cerita penulis dan ambil hikmahnya dalam tulisan ini. Tulisan ini murni dari sudut pandang dan perasaan penulis. Selamat membaca 


Istana Melati, Oktober 2021

Hai, mas mantan?

Bagaimana kabarnya sekarang?

Apakah kamu sudah melupakan aku? Aku rasa kamu sudah melupakan aku atau mungkin kamu sudah bertemu dengan belahan jiwamu. Yah, aku sudah tidak berharap apapun lagi darimu. Hanya sebuah rasa syukur yang sering aku panjatkan dalam setiap doaku.

Rasa syukurku bisa terlepas darimu karena aku telah menyadari bahwa bertahan denganmu akan menimbulkan banyak tekanan batin dan tekanan lainnya padaku. Aku berterima kasih padamu karena kamu telah melepaskanku dan mengembalikan aku pada orang tuaku. Aku bersyukur bisa kembali dan berkumpul lagi dengan orang tuaku, yang selalu mendukungku dan selalu mendoakanku.

Aku bersyukur karena aku bisa berkumpul lagi dengan teman-teman yang selalu menyemangatiku dan bisa bercanda dan bergosip ria dengan mereka. Teman-temanku yang hilang ketika kamu hadir dalam hidupku. Karena kamu benar-benar membatasi seluruh komunikasiku dan frekuensi pertemuanku dengan mereka. Teman-teman yang telah aku kenal sejak aku belum mengenal cinta dan ketika kita semua masih berproses dan mereka semua adalah anak baik-baik dan dari keluarga yang baik pula. Hingga ketika kamu melarangku untuk bertemu dengan mereka, jujur aku kecewa. Mengapa? Karena aku yakin teman yang bersamaku adalah orang baik dan mereka orang yang realistis dan berpikiran positif. Kini, setelah terlepas darimu, aku bisa merasakan bahwa mereka memang sahabatku, yang tidak meinggalkanku ketika aku mendapat penghinaan, cacian dan kekecewaan darimu dan keluargamu. Dari mereka pikiranku tersadar, bahwa ya, memang kamu bukan orang yang terbaik buat mendampingiku. Bukan berarti mereka tidak suka dengan mu, tetapi mereka merasa sedih ketika aku harus hidup dengan laki-laki sepertimu. Mereka hanya tahu sebatas tentang kamu, tetapi ketika aku bercerita sedikit tentangmu, mereka mendukung keputusanku untuk berpisah darimu. Dari situ, aku selalu bersyukur, bahwa teman-temanku mendukungku walau itu sangat menyakitkan untukku.

Awal kehilanganmu, merupakan pukulan terberat buat diriku dan mentalku. Bukan hanya aku tapi juga orang tuaku. Mereka terpukul dan juga merasa kecewa. Kamu adalah menantu kesayangan mereka. Menantu yang telah dianggap anak oleh mertuanya. Yang disayangi dan diperlakukan seperti anak kandungnya. Banyak orang ingin ada diposisimu, tetapi kamu malah mengecewakan mereka. Diposisi ini, mentalku benar-benar diuji. Aku dihadapkan dengan dua pilihan yaitu bertahan dengan laki-laki yang aku cintai tetapi telah mengecewakan orang tuaku atau meninggalkanmu dan memilih ke dua orang tuaku. Yah, akhirnya aku memilih ke dua orang tuaku. Dan benar, sekarang aku merakasan, bahwa pilihanku ternyata benar. Hidupku lebih damai dan tenang. Dan mentalku yang awalnya goyang dan pikiranku tidak fokus sekarang mulai membaik. Aku bisa berpikir dengan jernih dan berpikir secara realistis. Memang benar, ketika mental kita down, obatnya mendekatkan diri dengan Tuhan dan semangat dari orang terdekat, orang tua, keluarga dan teman-teman.

Untuk menerima keadaanku yang sekarang, aku harus menyiapkan waktu yang tidak singkat. Berbulan-bulan aku mengurung diri, tidak berinteraksi dengan orang lain dan hanya berinteraksi dengan mereka yang telah mengetahui cerita dan kondisiku. Bahkan untuk bertemu orang lain, aku meminta orang tuaku untuk menemaniku. Di sini peran orang tua sangat penting untuk kesembuhan mentalku. Aku yang dulu terkenal ceria, murah senyum dan terbuka, kini menjadi anak yang murung, pendiam dan tertutup.

Bagiku, Idul Fitri tahun 2021 adalah Idul Fitri terberatku, tetapi ternyata aku salah. Idul Fitri adalah waktuku untuk bangkit dan menjelaskan pada semuanya tentang kondisi dan masalahku. Tahukah kamu apa yang terjadi? Aku banyak mendapat dukungan dan semangat. Yah, aku harus cerai darimu.

Perceraian yang menyimpan banyak cerita, perceraian yang mengundang emosi dan perceraian yang membuka kembali pemikiranku. Dari perceraian ini aku banyak belajar banyak hal, tentang tanggung jawab, keikhlasan dan rasa syukur.

Sayangku, tahukah kamu, ternyata aku dikelilingi oleh orang-orang yang penuh perhatian dan penuh kasih sayang terhadapku. Mereka ingin aku bangkit, melupakanmu dan kembali mengejar mimpiku. Mereka prihatin akan kondisiku. Mereka ingin agar aku sehat dan bugar seperti dulu lagi. Kamu memang benar-benar penghancur jiwa dan ragaku.

Darimu aku berterima kasih dan belajar tentang pelajaran hidup yang dapat aku ambil hikmahnya. Terutama tentang tanggung jawab dan kejujuran. Yah, dua hal itu yang aku tidak dapat darimu. Dan dari dua hal tersebut, aku sudah mengetahui kualitas dirimu dan keluargamu. Sampai sekarang aku masih memegang kata-katamu, “BAIK PAK, KALAU BEGITU SAYA SAJA YANG MENGURUS SURAT CERAINYA” hanya itu kalimat perpisahan yang aku ingat dan tidak pernah terwujud, karena yang mengurus surat cerainya adalah aku. Dalam diriku aku berucap, “TIDAK APA-APA AKU KEHILANGAN UANG SEJUTA DUA JUTA, KERJA SEBULAN DUA BULAN UANG BISA KEMBALI, TAPI KALAU KAMU, KAMU KEHILANGAN HARGA DIRIMU SEBAGAI LAKI-LAKI”.

Memang, melupakanmu butuh waktu bagiku, tapi tenang saja, aku akan mengenangmu sebagai kenangan terbaikku. Akan aku simpan kenangan manis darimu karena aku ingin berdamai dengan keadaan dan memaafkan segala kesalahanmu dan keluargamu. Karena kalau menyimpan keburukanmu, aku kan menjadi seorang pendendam dan aku tidak akan bisa memaafkanmu, aku tidak mau menjadi wanita seperti itu.    

Terima kasih telah pernah sama-sama berjuang dalam sebuah ikatan pernikahan dan akhirnya kita berhenti untuk saling memperjuangkan. Terima kasih telah pernah membahagiakan aku meskipun ada banyak derai air mata yang mengalir. Terima kasih atas segalanya yang telah pernah kamu berikan padaku, kasih sayang, cinta, pengorbanan, kekecewaan, kebohongan, janji palsu, sakit hati dan air mata.

Aku juga tersadar, selama ini aku juga banyak kekurangan dan banyak salah terhadapmu dan keluargamu. Maafkan aku, untuk keegoisan dan pilihan atas hidupku. Perkataan dan perilakuku yang telah banyak mengecewakan dan melukai hatimu, kini aku tersadar bahwa yang terbaik adalah meminta maaf. Meminta maaf padamu, umimu dan juga saudara-saudaramu.

Yah, kita berdua sudah seharusnya saling memaafkan dan berdamai dengan keadaan. Kesalahan kita sama-sama fatal di depan keluarga kita masing-masing, dan aku menyadari itu. Mari berjalan dengan pilihan masing-masing, sudah cukup jangan saling menyakiti lagi.

Jadilah laki-laki yang bertangung jawab ketika kamu memiliki pasangan, bimbing dia seperti kamu membimbingku dan jangan pernah kamu meninggalkan pasanganmu seperti kamu meninggalkan aku dulu. Jaga kesehatan, jangan suka begadang, makan yang teratur, jangan sampai terlilit pinjaman, baik pinjaman yang resmi, pinjaman yang nyata maupun pinjaman online, dahulukan pasanganmu dan hormatilah mertuamu.

Cerita yang sebenarnya terjadi, cukup kita berdua yang mengetahui. Terserah orang lain memandang kita seperti apa, cinta kita, ketulusan kita dan kekecewaan kita hanya kita sebenarnya yang mengetahui. Dan aku percaya itu.

Dari lubuk dari yang paling dalam aku mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya untuk seluruh yang pernah kamu berikan padaku dan aku meminta maaf sebesar-besarnya atas seluruh kesalahanku padamu.

Sayangku, bolehkah aku meminta sesuatu darimu? Sayangku, ikhlaskan aku dan lepaskan aku dari kehidupanmu. Tolong sayangku, jangan ganggu aku dan jangan sakiti aku, keluargaku dan orang-orang yang dekat denganku. Aku hanya berharap seperti itu darimu sayang. Kamu berhak bahagia sayang dengan pilihanmu, dan aku juga berhak bahagia dengan pilihanku. Kita sama-sama masih muda sayang, pikirkan masa depanmu dan keluargamu, jangan sampai kamu menyesal pada akhirnya sayang. Jujur sayang, aku sudah lelah, sudah capek dengan seluruh kelakuanmu dan terormu. Ketahuilah sayang, orang sabar ada batasnya, orang diam ketika dipukul suatu saat pasti akan membalasnya. Tolong sayang, hentikan semuanya, sebelum Tuhan menghentikan semuanya, menghentikan rezekimu, menghentikan kelakuanmu dan menghentikan nafasmu. Aku tidak bercanda. Aku serius. Tapi, kalau peringatanku ini hanya kamu anggap angin lalu, aku ikhlas. Yang penting aku sudah pernah memperingatkanmu. Ini pesan terakhirku sayang. 


Sekali lagi terima kasih dan maafkan aku.

 

❤Salam Sayang❤

 

πŸ’•πŸ’•πŸ’•Wanita yang telah tulus mencintaimu πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Note:

Aku memposting tulisan ini tepat di tanggal kita menikah. 18 Desember. Selamat ulang tahun pernikahan sayang. Terima kasih untuk segalanya. YYY


Sabtu, 04 Desember 2021

MENGURUS PERCERAIAN SAMPAI SELESAI


TULISAN INI DIBUAT DARI PENGALAMAN PRIBADI DAN INFORMASI SAJA. BUKAN UNTUK MEMBUKA ATAU MEMBONGKAR AIB. TULISAN INI BUKAN UNTUK MENDUKUNG PERCERAIAN, TETAPI SELAMA MENGURUS PERCERAIAN, PENULIS BENAR-BENAR TIDAK ADA GAMBARAN SAMA SEKALI TENTANG PERCERAIAN, BAIK PENDAFTARAN GUGATAN MAUPUN SIDANGNYA. PERCERAIAN MERUPAKAN AIB, JADI KALAU TANYA SAMA TETANGGA KAN MALU YA, JADI INI HANYA GAMBARAN UMUM SAJA. MOHON PENGERTIANNYA, DAN TERIMA KASIH.

  

"Enggepun pak, kulo urus surat-surate (Surat Cerai)." Suamiku, Maret 2021.

"Iya sudah pak, saya urus surat-suratnya (Surat Cerai)." Suamiku, Maret 2021.


Setelah tanggal Maret tersebut, ya aku menanti-nanti dong, surat cinta dari pengadilan Agama. Waktu itu, aku dan dia masih lancar komunikasinya. Ya ala-ala backstreet anak-anak ABG gitu. Hingga awal April, dia bilang kalau sudah menitipkan mengurus surat ke Pak Mudin. Oke, aku masih menunggu nih, surat cinta dari Pengadilan Agama. Padahal, kalau awal April udah nitip, tengah bulan sampek akhir bulan, harusnya aku udah dapat surat cintakan? Oh, ternyata tidak. Sampek hari Raya Idul Fitri yaitu bulan Mei, aku minta Buku Nikahku, tidak diberikan. Malah pihak keluarganya suamiku menyuruh mempertahankan pernikahan ini. Ya, okelah, kita tunggu, mungkin setelah Hari Raya Idul Fitri suamiku mendaftakan gugatan cerainya ke aku. Hingga akhir Mei, tidak kunjung datang surat cinta tersebut. 

 

Karena aku lelah menunggu datangnya surat cinta dari Pengadilan Agama, aku datanglah ke Pengadilan Agama. Tanya dong aku, apakah namaku sudah terdaftar di Pengadilan atau belum. Ternyata tidak ada. Aku kurang puas, kusodorkan Fotocopy KTP dia. Eh, ternyata tidak ada juga nama dia. Oh, ternyata dia belum mengurus. Aku langsung tanya ke petugas yang ada di sana, persyaratannya apa aja untuk mengajukan perceraian. Syaratnya bawa fotocopy KTP, fotocopy KK dan buku Nikah yang asli. Sekalian membawa uang Rp 1.400.000 untuk biayanya dan dibayarkan waktu mendaftar perceraian.

 

Deg, ketika aku mendengar biaya perceraian sebanyak itu. Dalam hati aku menangis dan tidak ada keadilan untukku. Udah ditinggal, tidak diberi nafkah dan sekarang harus bayar untuk mengurus perceraian. Tapi, aku punya prinsip kalau aku yang mengurus biaya perceraian yaitu "AKU GAK PAPA KEHILANGAN UANG SATU JUTA DUA JUTA, AKU BISA BEKERJA SEBULAN DUA BULAN UANG SUDAH BISA KEMBALI, TAPI KALAU DIA (LAKI-LAKI MANTAN SUAMI) KAMU BAKAL KEHILANGAN HARGA DIRI SEBAGAI LAKI-LAKI". "BIAYAIN CERAI AJA GAK MAMPU KOG, YAKIN MAU NIKAH LAGI?"

 

Setelah itu, aku tanya seputar buku nikahku. Yah, buku nikahku dibawa oΔΊeh mantan suamiku dan tidak diberikan kepadaku.

“Pak, buku nikah saya tidak ada. Tidak diberikan sama suami saya. Terus bagaimana pak?”

Buku nikah tidak diberikan? Ya, ngurus ke KUA. Sebelum ngurus ke KUA, minta surat pengantar dari RT dulu, surat pengantar kehilangan, kemudian minta tanda tangan RT, RW dan kepala Dusun. Habis itu, surat pengantar itu dibawa ke Kelurahan untuk minta surat keterangan kehilangan. Dari kelurahan, ke Polsek untuk mengurus kehilangan. Kemudian ke KUA untuk mengurus Duplikat buku nikah. Dengan membawa fotocopy KTP dan fotocopy Kartu Keluarga. Cepat kog untuk memperoleh Duplikat Buku Nikah. Duplikat buku nikah bisa diterbitkan besoknya, tergantung kepala KUA-nya, beliau ada apa tidak di kantor, kalau beliau ada, bisa cepat selesainya, kalau aku dulu hampir seminggu, karena kepala KUA nya tugas luar kota. Jadi ya tergantung masing-masing KUA nya. Biayanya berapa? Tergantung dari KUA nya. Kalau di tempatku waktu itu, tergantung kita ngasih berapa. Seikhlasnya aja sih. 

 

Duplikat Buku Nikah sudah didapat, cus dafar ke Pengadilan Agama. Apa aja yang perlu dibawa untuk pendaftaran perceraian? Foto copy KTP, foto copy Kartu Keluarga, foto copy Duplikat Buku Nikah, Duplikat Buku Nikah asli dan uang untuk biaya pendaftaran. Di pengadilan Agama, aku mendaftarkan perceraianku di loket 1, yaitu untuk daftar perceraian dengan memberikan foto copy KTP, KK, Buku Nikah dan buku nikah Asli. Nanti kalian akan mendapatkan map dan ditanyai nomer ponsel pasangan kalian. Jadi, usahakan kalian masih menyimpan nomor HP pasangan kalian ya, meskipun kalian saling blokir

Setelah itu pindah ke bagian yang membantu membuatkan laporan perkara. Di sini kita dibantu oleh lembaga bantuan hukum. Sepertinya ini terpisah dari pegawai pengadilan (koreksi kalau salah ya, bukan anak Hukum soalnya). Dan diruangan inilah kita ditanyai tentang kenapa harus bercerai. Dan buatlah alasan yang masuk akal dan logis ya gaaaeeeessss... Karena kalau kalian meminta bercerai tapi alasannya tidak masuk akal dan kalau mau jujur dengan alasanku kenapa bercerai, malah dikira fitnah dan mengada-ada. Begituuuu..... Oh iya, kalau kalian membutuhkan seseorang untuk menemani kalian, bisa kog, bawa seseorang masuk yang berkepentingan untuk membantu kalian membuat laporan. Soalnya dulu, sebelahku ada yang ditemani sama kakaknya atau saudaranya gitu, disuruh manggil sama bapak-bapak lembaga bantuan hukumnya. Setelah dibuatkan laporannya, kita disuruh baca kembali kalau ada salah dalam penulisannya jadi bisa dibenerin. Setalah selesai, dan mendapat berlembar-lembar surat yang telah kita tanda tangani, kita ke loket 2.

 

Aku lupa ngapain aja di loket 2, tapi kalau gak salah, loket 2 ini nginput perkara kita, jadi dapat nomor perkara kalau gak salah, atau menginput di sistemnya pengadilan agama. Lupa pokoknya aku. Setelah dari loket 2, pindah ke loket 3.

 

Loket 3 ini adalah kasir. Kasir akan menentukan berapa biaya perceraian kita. Aku dulu bayar biaya perceraian sebesar Rp 1.030.000. Perlu diingat, setiap perceraian itu berbeda-beda ya, biayanya tergantung dari lokasi kita dengan lawan kita. Di loket 3 ini kita diberi tahu tentang aplikasi yang berhubungan dengan perceraian di Kabupatenku. Jadi, nanti untuk jadwal sidang, kita bisa lihat di aplikasi tersebut.

 

Di loket 3 kita akan mendapat jadwal sidang pertama, salinan berkas perkara juga. Dan kertas hijau yang terdapat jadwal sidangnya.  Kasir juga memberi tahu untuk membawa uang Rp. 150.000 untuk proses mediasi. Uang tersebut dibayarkan kalau lawan kita datang dan kita melakukan mediasi. Kalau lawan kita tidak datang, ya tidak mediasi dan uang tersebut tidak diperlukan. Selesai sudah, kita mendaftarkan perceraian kita. Menunggu 2 minggu untuk sidang pertama.

 

Sidang Pertama. Juni 2021.

Aku berangkat pagi hari diantar oleh bapakku. Aku berangkat kira-kira pukul 8 pagi. Dan ternyata jadwal sidangku pukul 10 pagi. Setelah sampai di Pengadilan, aku datang terlalu awal dan oleh satpam dalam dan resepsionisnya ditanyai apakah sudah download aplikasi apa belum? Kalau sudah, aku diajari cara mengecek jadwal sidangku. Setelah mendapat nomor antrean, aku menunggu di ruang tunggu. Aku berfikir suamiku tidak datang, eh, ternyata dia datang. Setelah menunggu cukup lama, ya namanya juga ruang sidang hanya satu, ya sudah kita menunggu dong. Masuk ke ruang sidang, aku dan suamiku ditanyai (aku lupa ditanyai apa aja) habis itu, kita disuruh mengikuti mediatornya ke luar ruang sidang. Tapi, kita disuruh menunggu di luar ruangan karena mediatornya menyiapkan berkasku. Setelah siap, kita dipersilakan masuk. Sebelum memulai mediasi, suamiku dipersilakan duduk dikursi sebelah administrasi dan aku disuruh duduk dimeja administrasi dulu karena aku adalah penggugatnya. Aku disuruh membayar biaya mediasi sebesar Rp 150.000 dan menandatangani beberapa berkas. Setelah itu baru pindah duduk disebelah suamiku.

 

Selama proses mediasi, suasananya berjalan dengan santai. Jadi aku diberi kesempatan untuk berbicara terlebih dahulu kemudian suamiku. Saat aku atau suami memberikan keterangan, masing-masing dari kita tidak boleh ikut berbicara atau memotongnya. Semua diberi waktu yang sama dalam berbicara dan mengeluarkan pendapatnya. Mediator kemudian memutuskan bahwa mediasi berhasil atau tidak berhasil. Mediasi dikatakan berhasil memediasi kita apabila kita membatalkan perceraian kita. Tetapi, sayangnya mediator tidak berhasil memediasi kita, dan aku tetap pada pendirianku untuk bercerai.

 

Setelah itu, tanda tangan lagi beberapa berkas dan disuruh datang kembali minggu depan. Aku sebagai penggugat disuruh membawa dua orang saksi dan tergugat atau suamiku datang sendiri. Sidang ke dua ini tanpa undangan ya saaayyy, jadi baik penggugat maupun tergugat tidak mendapat undangan atau panggilan seperti sidang pertama.

 

Sidang kedua, Juni 2021.

Agenda sidang ke dua adalah laporan mediasi. Aku datang ke pengadilan tidak sendirian melainkan dengan membawa dua orang saksi. Saksi yang aku bawa adalah bapakku dan pamanku. Aku melihat di aplikasi pengadilan agama aku mendapat nomor antrian 53 pukul 10:50. Aku berangkat pukul 10 lebih dari rumah. Sepertinya dia tidak datang untuk sidang kali ini. Sepertinya seperti itu. Karena sidang kali ini tanpa surat undangan atau surat terlampir dari pengadilan, tetapi pada saat mediasi kita diberi tahu bahwa sidang selanjutnya akhir Juni 2021 dan saya membawa saksi dua orang.

 

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya tiba giliranku untuk memasuki ruang siang. Sampai di dalam ruang sidang, Hakim Ketua langsung menanyaiku, "sudah yakin kalau ingin berpisah bu?" Aku menjawab "yakin pak." Kemudian aku dipersilakan duduk dan ke dua saksi yang aku bawa disuruh menunggu di luar dan nanti akan dipanggil kembali. Setelah saksi keluar, aku kembali diberi pertanyaan oleh Hakim Ketua, seperti kemana suaminya? Sudah tidak tinggal serumah? Sudah yakin bercerai? Jawabanku adalah, tidak tahu. Saya tidak tinggal serumah dan memang aku sudah pisah rumah sejak Februari 2021. Kalau ditanya yakin berpisah? Iya, yakin 100% untuk berpisah dan bercerai. Kemudian Hakim ketua menyatakan kalau sidang selesai dan ditutup. Ketok palu.

 

Saksi kemudian dipanggil untuk masuk ke ruang sidang. Hakim Anggota sebelah kiri menanyai para saksi. Sebelumnya saksi disumpah terlebih dahulu, kemudian ditanyai satu persatu. Pertanyaannya adalah ada permasalahan apa antara aku dan suamiku? Mulai kapan suamiku meninggalkan rumah? Atau sejak kapan aku dan suamiku pisah rumah? Apakah sudah pernah mendamaikan? Apakah sudah berdiskusi dengan besan? Apakah sudah yakin kalau anaknya bercerai? Pertanyaan seperti ini diajukan kepada saksi satu, yaitu bapakku. Sedangkan saksi dua adalah pamanku, ya pertanyaannya sama. Bapak dan pamanku sudah yakin dan mantap agar aku berpisah dan bercerai dengan suamiku. Setelah itu, bapak dan paman disuruh keluar. Sudah selesai tugas mereka.

 

Setelah mereka keluar ruang siang, aku diberi tahu bahwa akan memanggil suamiku sekali lagi dan sidang ditunda minggu depan. Ya, ini berdasarkan prosedur kata pak Hakim. Jadi sidang ditunda dan diputuskan minggu depan.

 

Sidang ketiga, Juli 2021.

Aku berharap ini adalah sidang terakhirku. Dan harapanku adalah dia tidak datang di sidang hari ini. Karena peraturan PPKM yang sangat ketat, untuk memasuki gedung Pengadilan, hanya pihak-pihak yang benar-benar berkepentingan saja. Jadi, bapakku tidak bisa masuk ke dalam gedung pengadilan. Bapak menunggu di ruang tunggu di luar gedung pengadilan. Okelah, aku masuk sendiri ke dalam Pengadilan sambil menunggu nomor antrian sidang. Pukul 9 lebih, eh dia datang. Panik gak? Ya gak paniklah. Malah aku bersemangat untuk meminta hak-hakku selama aku ditinggal olehnya. Saat menunggu panggilan sidang, aku dan dia mengobrol ringan, bahkan ada petugas pengadilan mengisi air mineral di lemari es, dia sempat menawari dan mengambilkanku minuman. Tapi, aku tolak. Aku takut gaes, karena dia mainnya alusan saaayyy.

 

Saat-saat yang ditunggu telah tiba, nomer antrian kita dipanggil. Cus, masuklah kita ke ruang sidang. Hakim bertanya apakah kita yakin untuk bercerai? Kita sepakat untuk bercerai. Hakim membacakan surat gugatan yang telah aku buat, laporan hasil mediasi dan saksi yang aku bawa. Semuanya dibeberkan di depan aku dan dia. Kemudian suamiku ditanya oleh bapak Hakim, apakah mau menghadirkan saksi atau tidak? Dia menjawab tidak. Oke, kemudian sidang dilanjutkan.

 

Setelah itu, aku bertanya apakah saya bisa menuntut hak-hak saya selama di tinggal? Kata bapak Hakim, bisa, tapi surat gugatan saya harus dicabut terlebih dulu, kemudian membuat gugatan baru lagi. Ya ibaratnya harus daftar lagi dari awal. Bapak hakim senang apabila gugatanku dicabut dan aku tidak jadi bercerai. Tapi, aku tidak mau dan sidang dilanjutkan. DOK. Diputuskan bahwa gugatanku dikabulkan oleh bapak Hakim.

 

Setelah putusan Hakim, aku keluar dan ke kasir untuk mengerus administrasinya. Ternyata biaya yang aku bayar terdapat sisa. Sisa Rp 200.000 an. Jadi, sisa pembayaran dikembalikan dan untuk surat jandanya harus menunggu 1 - 2 minggu. Ya pokoknya harus aktif-aktif melihat aplikasi apakah surat jandaku sudah keluar. Surat janda atau duda keluarnya tidak ada pemberitahuan ya saaayyyy, jadi ya harus datang ke pengadilan agama dan tidak bisa diwakilkan pengambilan suratnya. Saat pengambilan membawa uang Rp 10.000,00 dan KTP. Sudah deh, selesai mengurus perceraian.

 

Waktuku dari pendaftaran perceraian sampai keluar surat Jandanya ya 2 bulanan. Bisa cepat dan bisa lama, tergantung lawannya dan gugatannya dipersidangan. Kalau salah satu dari ke dua belah pihak tidak datang malah cepat. Dua kali sidang sudah selesai. Oh iya, ini gugatannya dari pihak istri atau cewek ya, kalau dari pihak suami atau cowok, beda-beda tipis ya saaayyy... tapi mungkin untuk administrasinya sama biayanya mungkin yang berbeda. Ya tanya aja di bagian informasi di pengadilan Agama aja, untuk lebih tepatnya.

 

NOTE :

Aku membuat tulisan ini murni dari pengalaman pribadi dan aku hanya ingin memberi gambaran tentang mengurus perceraian tanpa melalui kuasa Hukum. Aku juga tidak menyarankan untuk bercerai karena perceraian itu sakiiiiiitttt saaaaayyyy. Kecuali kalau kesalahannya memang tidak bisa dimaafkan dan perceraian adalah jalan terbaiknya.

 

Silakan mengambil hikmahnya dari tulisan ini, dan apabila ada penulisanku yang salah atau kurang tepat, aku membuka saran serta kritik yang membangun untuk tulisanku selanjutnya.

Terima kasih telah membaca tulisanku. 

Kamis, 18 November 2021

SURAT UNTUK SUAMIKU

Tokyo, Maret 2021


Teruntuk Suamiku Sayang

Ketika kamu membaca tulisan ini, di manapun kamu membaca tulisan ini, aku tidak tahu pasti bagaimana kondisimu saat ini, mungkin kamu sedang marah terhadapku, mungkin kamu sedang kecewa terhadapku atau mungkin juga status kita sudah tidak suami istri lagi. Maafkan aku karena aku lebih memilih keluargaku. Aku selama ini merasa tertekan oleh sifat egoismu, larangan-laranganmu dan perlakuan umimu terhadapku.

Sayang, andai kita bisa memutar waktu, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Kamu yang lebih memilih kelompokmu dan meninggalkanku ketika malam hari, itu sangat menyakitkan buatku. Ketahuilah, aku sering menangis ketika kamu meninggalkanku. Tapi, cintaku padamu kala itu membuat aku bertahan dan masih tetap mencintaimu. Di samping itu, aku sangat kecewa terhadap keluargamu, terutama UMImu. Maafkan aku, aku sudah sakit hati terhadap umimu sayang. Bagiku, Umi hanyalah mertua yang tidak bisa menghargai kehadiranku di rumahmu. Selama kamu meninggalkanku di malam hari, kenapa umimu tidak pernah melarangmu pergi sayang? Padahal di rumahnya ada seorang menantu sebagai istrimu yang harus kamu jaga dan harus kamu temani, seorang istri yang rela meninggalkan ke dua orang tuanya yang selalu menjaganya dan memperhatikannya, tetapi diperlakuan seperti itu di rumah mertuanya?

Sayang, ketika kamu pergi bekerja, aku merasa sangat tertekan. Umimu menganggap seolah kehadiranku tak pernah ada. Ketika kamu pulang kerja, aku selalu menunggumu, menunggu kamu sebagai sandaranku terhadap perlakuan umimu. Tapi, kamu juga seperti itu sayang... Kamu juga mengecewakanku. Aku ingin dimanja, dipeluk, dicium pipi dan keningnya ketika kita berdua, tetapi apa yang aku dapat? Kamu lebih memilih ponselmu dan bermain game online daripada memperhatikanku. Oh iya, kamu selalu memilih duduk di ruang makan, dan ketika aku meminta untuk dicium, kamu selalu beralasan, banyak orang. Di situ hatiku sangat kecewa sayang, sungguh sangat kecewa. Ketika kamu di kamar atas, yang hanya ada aku dan kamu, kamu lebih memilih untuk tidur atau melanjutkan bermain game online dari pada memperhatikanku.

Suamiku sayang, aku tidak pernah berprasangkan buruk terhadapmu di luar sana. Aku sangat percaya kepadamu, sayang. Tapi, kepercayaan itu luntur tak kala kamu sering mengirimkanku chat, bahwa aku bukan wanita yang tepat untuk mendampingimu. Kamu selalu bilang, bahwa kamu menginginkan wanita pilihan umimu. Sakit, sakit sayang kamu berkata seperti itu. Di saat rumah tangga kita sedikit goyah, saat kita tidak satu atap, kamu malah membuat luka lain. "Mi, kalau istriku tidak mau diajak ke sini, carikan aku istri lagi ya mi." kalimatmu waktu itu. Duar. Bagai petir di siang hari. Tangisku pecah seketika itu dihadapanmu. Kamu dengan santainya menenangkanku, menyuruhku mendekat dan memelukku. Hatiku hancur sehancur hancurnya. Dengan entengnya kamu berkata bahwa itu hanya bercanda sayang. Bagiku, tidak ada kata bercanda sayang. Itu sudah sangat menyakitkan. Perkataan bahwa kamu salah dalam memilihku sering kamu utaran padaku dan berkata bahwa wanita pilihan umimulah yang terbaik. Tahukah kamu, ketika berkata seperti itu membuatku meneteskan air mata? Tahukah kamu bagaimana perasaanku kala itu? Aku berpikir kamu tidak pernah merasa bersalah ketika berkata seperti itu.

Sayangku, aku mencoba bertahan untuk rumah tangga kita. Tapi kamu kembali lagi menghancurkan tembok pertahananku. Ya, aku ingat, 27 Januari kala kamu mengantarku pulang ke rumah orang tuaku, kamu bertemu dengan temannya bapak, dan satu pertanyaan yang terlontar adalah "kamu lebih berat yang mana, istrimu atau kelompokmu?" Jawabanmu sungguh membuatku menangis untuk ke sekian kalinya. Kamu menjawab bahwa kamu tidak bisa memilih antara aku atau kelompokmu. Seberat itukah kamu mau menerima kehadiranku? Setega itukah kamu terhadapku? Sayang, ketahuilah bahwa aku manusia bisa. Yang mempunyai rasa sabar yang terbatas, yang mempunyai rasa sayang yang bisa memudar.

Seiring berjalannya waktu, aku merasa rasa perhatian dan kasih sayangmu padaku semakin kecil dan semakin memudar. Aku ingin kamu yang dulu suamiku, seorang yang selalu perhatian, pulang kerja langsung pulang ke rumahku, menemaniku memasak dan tidak mau berpisah dan jauh dariku. Sungguh, aku sangat merindukan hal itu. Tapi, aku tidak tahu ada apa denganmu. Apakah kamu juga memiliki perasaan yang sama terhadapku juga? Atau malah kamu ingin menjauhiku dan menyiksa batinku saja? Karena itu yang aku rasakan sayang.

Hal yang paling membuat aku sangat kecewa adalah ketika kamu membatasi seluruh ruang gerakku. Kamu melarangku menyapa orang yang aku kenal, padahal orang tersebut masih saudara denganku, kamu melarangku bertemu dengan teman-temanku dan kamu juga melarangku untuk menemui tamu yang datang ke rumahku. Bahkan kamu juga melarangku menggunakan baju yang aku sukai.  

Satu bulan lebih kita tidak bertemu, kamu tidak ada niatan untuk datang menemuiku. Oh tidak, dua atau tiga hari tidak bertemu denganku, sikap kamu sudah berubah, tidak ada rasa kangen padaku, tidak ada niatan untuk menghubungiku, yang ada hanya chat ancaman dan kemarahanmu saja.

Sayang, janjimu yang telah kamu tepati setelah menikah adalah kamu tidak akan mengajakku ke makam lagi. Aku kira kamu masih mengingat waktu kita akan pulang setelah selesai jalan-jalan ke sebuah tempat wisata, kamu berkata, "Sayang, setengah perjalanan lagi kita sudah sampai di Makam. Ayo kita ke sana?" Kemudian aku menjawab "Iya, boleh, tapi ini untuk terakhir kalinya kamu mengajakku ke Makam tersebut?". Kamu menimpali dengan, "Iya sayang, aku janji, ini yang terakhir kalinya aku mengajakmu ke Makam, setelah ini, kamu tidak akan aku ajak ke makam lagi."

Tetapi sayang, aku juga merasa bahagia bila kamu sering mengajakku ke tempat-tempat yang belum pernah aku datangi. Mengenalkanku kepada saudara-saudaramu. Memelukku dari belakang, dan memasang masker wajah ketika malam hari itu merupakan bentuk kasih sayangmu terhadapku. Aku sangat merindukan hal itu sayang.

Jujur sayang, aku bingung terhadap sikapmu yang sering berubah-ubah dan janji-janji manismu. Perkataanmu yang bisa setiap menit berganti dan tanpa pendirian yang pasti membuatku pusing menyikapi sikapmu tersebut. Apalagi tentang karir dan pekerjaanku. Hari ini kamu berkata, oke, silakan kerja. Besok kamu berkata, "ngapain kamu kerja? Kan aku udah kerja?". Besoknya lagi kamu berkata, "ya udah, kamu kerja aja."

Sayang, maafkanlah aku, ketika ajakanmu dan keluargamu untuk mengajakku jalan-jalan tidak mendapat ijin dari bapakku. Ketahuilah sayang, saat itu, aku sangat kecewa, kecewa berat terhadapmu. Bagiku saat itu, sandaranku hanyalah orang tuaku. Selama beberapa hari kamu meninggalkanku di rumah orang tuaku, chatmu sering mengecewakanku, mengancamku untuk menceraikanku dan memilih wanita pilihan umimu. Sampaikan maafku juga untuk seluruh keluargamu, kalau tidak dimaafkan juga gak papa sayang, aku sudah menerimanya bahkan dihina juga aku sudah siap.

Sayangku, maafkan aku karena belum bisa menjadi istri yang seperti kamu minta. Maafkan aku yang selalu cerewet terhadapmu, yang mempunyai pikiran-pikiran yang tidak sejalan dengamu, yang sering ingin dimanja olehmu. Maafkan aku yang selalu menuntut perhatian darimu. Ketahuilah sayang, aku dibesarkan oleh kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuaku, kakakku dan kakak iparku. Aku yang hidup tanpa kekurangan perhatian dan kasih sayang, yang selalu dimanja oleh orang tuaku dan tidak pernah mendapat hardikan dari orang tuaku.

Aku tahu sayang, kita dibesarkan dari lingkungan yang berbeda, pola pikir yang berbeda, pergaulan yang berbeda (aku suka ngemall dan kamu suka kuburan), pendidikan yang berbeda dan kasih sayang dari orang tua yang berbeda. Sayang, bapak dan ibu sangat menyayangimu, melebihi mereka menyayangiku. Ibu lebih memilihmu dari pada aku anaknya sendiri. Tapi, kasih sayang mereka hilang seketika ketika mereka mengetahui sikapmu terhadapku dan ketika kamu tidak mau untuk pulang ke rumahku. Bapak sudah menyiapkan semuanya untuk kita sayang. Bahkan, bapak juga masih siap ketika kamu harus keluar dari tempatmu bekerja, asalkan kita bisa tetap rukun dan bersama-sama.

Orang tuaku yang dulu menyayangimu, sekarang kecewa berat terhadap sikap dan perilakumu. Kamu yang meninggalkanku ketika aku sakit dan tanpa pamit ke orang tuaku, membuat orang tuaku tersakiti dan tidak bisa menerimamu kembali.

Sayangku, terima kasih telah menerima segala kekuranganku. Terima kasih telah menyayangiku. Dan terima kasih menganggap bapakku seperti bapak kamu.

Sayang, kamu orang yang baik, orang yang pernah aku sayangi, selama aku tidak di sampingmu untuk menemanimu, aku berharap kamu tetap bisa menjaga kesehatanmu, bisa memegang janji-janjimu. Meskipun janjimu padaku hanya sebatas dibibir dan di chat saja. Aku sangat berharap, ketika kamu nanti menemukan wanita lain, aku harap kamu lebih perhatian lagi, lebih menyayangi dia lagi, dan lebih menghargainya lagi.

Sayang, kamu harus tahu, saat aku menulis ini, keadaanku sedang menanti kedatanganmu, menanti sentuhan lembutmu dan bisikan romantismu. Kangen? Iya aku kangen kamu sangat kangen sekali. Tiap malam, aku berharap aku bisa tidur dipelukanmu. Bermimpi indah bersama dengamu.

Sayang, Terima kasih telah menjadi orang yang mau membimbingku dan menuntunku untuk menyempurnakan agamaku. Terima kasih telah mau aku repotkan selama ini.

Allah telah menakdirkan kita untuk bersama dan apabila Allah menghendaki kita untuk berpisah, insya Allah aku akan ikhlas. Meski raga kita berpisah, aku berharap dalam hatimu tetap terukir namaku. Mungkin jodoh kita di dunia sampai sini. Semoga aku bisa menjadi bidadari surgamu sayangku. 


Salam sayang,

 

BIDADARI SURGAMU 

Kamis, 20 Mei 2021

PENGALAMAN MENJADI STAF SERABUTAN PART 4

Ketika Semuanya Meninggalkan DAKU 


Mungkin terasa sangat sedih, ketika semuanya sudah tidak ada dalam satu ruang yang sama lagi, sudah memiliki tujuan hidup masing-masing dan sudah tidak pada tim yang sama lagi. Mereka semua sudah memberikanku banyak ilmu, pengalaman dan nasehat. Ini adalah pengalamanku ketika beliau bapak PPIC meninggal dunia. Tapi, kali ini aku akan bercerita tentang hikmah dari semua yang telah meninggalkanku. Daku tidak akan bercerita tentang kesedihan dan kepedihan selama ini, tetapi lebih pada pelajaran hidup saja.

Yuuuuk disimak.....

Setelah bapak Accounting pergi meninggalkan daku, daku harus bekerja ekstra keras untuk belajar, mamahami dan mengerti tentang perpajakan dan tetek bengeknya. Daku menjadi mengerti tentang sistem dan cara kerja dengan orang pajak. Ilmunya? Pengalamannya? Jangan ditanya, sudah pasti banyak. Daku berkembang? Sudah pasti. Dan daku juga menjadi pribadi yang lebih tahu seluk beluk dan bobroknya perusahaan.

Selain itu, daku bisa cuci mata kalau ke kantor pajak. Jujur yaaa, sebagai wanita normal, daku suka dong sama mas mas yang rapi dan bersih. Bedaaaaaaaa banget sama pria-pria yang ada di kantor maupun yang ada di pebrik. Bikin sepet mata pula. Daku juga banyak mengenal orang dengan berbagai bisnis yang ditekuni ketika mengantri di kantor pajak. Dari situ, daku bisa membuka pikiran dan wawasan yang lebih lagi dong. Satu lagi, daku dapat kenalan juga orang pajak. Hahahahaha

Selain daku mempunyai hak untuk jalan-jalan ke luar kantor dan melihat mas-mas ganteng, daku juga menikmati sejenak udara segar di luar kantor. Ketika kembali ke kantor, daku harus berjuang lagi, berkutat dengan pajak dan ruwetnya administrasi pajak itu sendiri. Ngeluh? Pusing? Pasti! Tapi, tidak ada satu orang satupun yang ingin membantuku dan mengerti keruwetanku. Daku hanya bisa pasrah dan meratapi nasib saja.

Neeexxxxttttt

Setelah berkutat dengan pajak, daku juga harus berurusan dengan HPP. Why? Karena yang tahu hanya daku dan Alm. PPIC saja. Lainnya tidak ada yang mengetahui seluk beluknya. Dan disinilah daku harus berjuang sendirian lagi dan lagi. Sebenarnya, ada sich, yang tahu tentang HPP ini, tetapi, ya begitulah, dia tidak secekatan Alm. PPIC. Si kepala produksi hanya bisa mengomentari tanpa memberi solusi. Mumet daku rasanya.

Si ibu sekretarisnya boos juga ingin enaknya saja. Selalu bilang, “itu ya deritamu, kamu yang diajari!” ingin rasanya daku mengumpat saja. Tapi, alhamdulillah, untuk masalah perhitungan gaji, sudah tidak ada yang protes lagi ke daku. Karena yang mengerjakan gaji orangnya teliti guys, jadi aman kalau masalah gaji.

Tapi, dibalik itu semua banyak hal yang bisa daku pelajari. Terutama kesehatan mental. Ya, walaupun tiap malam harus merasakan demam. Akhir kata ya, daku kaboor karena daku sudah tidak kuat, tidak tahan dan tidak dihargai lagi.

Sebenarnya pingin nulis banyak, tapi ini sudah tahun ke tiga daku meninggalkan itu kantor, jadi daku lupa harus nulis apa. Maafkan daku yaaa..... 


 

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1442 H.

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 
 
πŸ™πŸ™πŸ™