Rabu, 17 Februari 2016

SENIOR DAN PERJALANAN HATI

Kamu mungkin bukan laki-laki pertama dekat denganku. Tapi, kamu adalah orang yang membuat aku nyaman dengan kedatanganmu. Kamu adalah orang yang membuat aku untuk bisa menerima semua keadaanmu, mencurahkan semua apa terjadi denganku untuk aku bagi denganmu.
Nyaman. Mungkin itu yang aku rasakan ketika dekat denganmu. Sayang, iya. Tapi sebelum rasa sayang itu tumbuh, aku sudah nyaman denganmu.
Banyak laki-laki yang dekat denganku, tapi yang membuat aku nyaman hanya kamu. Patah hati ketika diputus oleh pacar tak sampai sesakit ketika aku kehilangan kamu. Salah satu sahabat saya pernah bilang, patah hati untuk pacar ke dua tidak sesakit waktu patah hati dengan pacar pertama. Tapi itu tidak terjadi denganku. Mungkin patah hati atau sakit hatiku lebih sakit ditinggal oleh orang yang telah membuat kita nyaman dari pada ditinggal oleh pacar atau pasangan kita.
Kamu yang telah membuat nyaman, posisimu lebih dari seorang pacar, sahabat bahkan keluarga. Pacar ada karena adanya sebuahnya komitmen sehingga kita bisa disebut pacar.
Rasa nyaman itu tumbuh dengan alami. Rasa yang muncul karena kita mengenal satu sama lain. Mengenal pribadi satu dan pribadi lainnya, mengenal kebiasaan dan mengenal keluarga atau bahkan tujuan dan masa depan kita yang tidak semua orang terdekat kita tahu.
Karena kamu hadir di saat yang tepat. Saat aku membutuhkan sebuah dukungan, motivasi, semangat, tempat curhat dan membuka sebuah kepercayaan. Kamu selalu ada di sampingku. Mempunyai banyak persamaan dalam urusan cinta dan asmara, posisi yang sama di keluarga dan harus berjuang untuk masa depan.
Kadang, aku juga sempat berfikir, kenapa aku sayang sama kamu, takut kehilangan kamu. Padahal, kamu tidak pernah mengajakku untuk kebaikan, mungkin itu yang aku rasakan. Kamu jarang ngajak aku sholat, jarang ngingetin ibadah dan bahkan kamu tidak pernah mengajariku tentang agama, bahkan kamu bilang kamu tidak bisa mengaji atau yang lainnya. Tapi, kamu mengajari untuk sesuatu yang baru bagi duniaku. Kamu membuka banyak pikiranku. Banyak pria brengsek yang dekat denganku, tapi mereka masih mengingatkan untuk sholat.
Kamu benar-benar menjadi malaikat bagiku ketika aku harus dihadapkan pada masalah skripsi. Kamu yang sering menyemangati aku dan menemaniku untuk mengengerjakan skripsi itu, membuat aku merasa sangat sangat nyaman untuk terus bersamamu. Ucapan terima kasih dalam skripsiku yang tertulis “Senior di manajemen yang selalu mendukung, menyemangati dan mendoakan penulis agar skripsi ini cepat terselesaikan.” Sebenarnya, tulisan itu aku tujukan untuk kamu, tapi aku masih ragu untuk menuliskan namamu, karena aku tahu aku bukan siapa-siapanya kamu. Kamu juga yang banyak berjuang untuk aku, angkatanku dan juga jurusan untuk banyak hal. Setelah dekat dan mengenal kamu, aku baru memahami kamu yang ternyata orang yang berani dan mudah emosi. Aku sangat mengapresiasi akan keberanianmu, tapi untuk emosimu, aku berharap aku bisa mengobati emosimu, agar kamu bisa menjadi pribadi yang lebih sabar dan lebih bisa mengendalikan emosimu.
Salah satu yang membuat aku nyaman dengan kamu adalah aku menemukan orang yang pas denganku ketika aku ajak chatingan atau ngobrol. Kamu orang yang mempunyai pendidikan yang sama denganku. Mempunyai pemikiran yang berbeda dalam beberapa hal, misalnya masalah dukungan untuk calon Presiden, tentang mekhluk halus atau semacamnya, tapi dari perbedaan itu, menimbulkan sebuah diskusi dengan cara pandang kita masing-masing. Pembawaan kamu yang cuek, nyantai dan baik serta wawasan kamu cukup luas sehingga aku merasa menemukan orang yang tepat untuk tempat berkeluh kesah.
Kamu yang sering curhat masalah mantanmu yang masih menghubungimu, itu membuatku merasa aku dibutuhkan dalam kehidupanmu. Banyak cerita yang telah kamu ceritakan kepadaku tentang mantanmu yang perawat itu. Tentang perjuanganmu, tentang kedekatan ibu dan mantanmu itu yang membuat nyaliku ciut untuk mengambil hati orang tuamu. Begitu pula dengaku, ketika aku ditinggal menikah oleh cinta pertamaku, saat itu, kamu hadir menemaniku, menertawakanku, karena kamu juga ditinggal nikah oleh mantan pacarmu yang adik angkatan itu. Caramu untuk menghiburku saat itu, benar-benar membuat aku sangat takut akan kehilangan kamu.
Hal yang paling membahagiakan dalam sebuah hubungan adalah melihat orang yang kita sayang bahagia pula. Saat kamu diterima kerja dan aku kamu beritahu bahwa kamu ketrima kerja, bagaimana bahagianya hatiku akhirnya penantian dan usahamu tidak sia-sia. Bahkan ketika kamu merasa putus asa ketika kamu kehilangan kesempatan untuk meraih sebuah pekerjaan, aku merasa sedih. Aku berusaha untuk selalu berada didekatmu, untuk selalu menyemangatimu. Aku ingin agar kamu tidak sendirian, kamu punya sandaran yaitu aku. Aku siap menjadi tulang rusukmu yang selalu berada di sampingmu dalam keadaan apapun. Bahkan aku juga aktif untuk mencari informasi tentang pendaftaran POLISI maupun TNI agar kehidupanmu menjadi lebih baik dan kamu mempunyai masa depan yang lebih jelas. Kamu juga sering mengirimi broadcast di BBM tentang lowongan pekerjaan. Dan salah satu lowongan pekerjaan yang kamu kirim ke aku, ada yang memanggil aku untuk melakukan wawancara, sayang hal ini kamu tidak aku beri tahu. Maaf ya.
Kamu adalah satu-satunya laki-laki yang mempertemukan aku dengan kedua orang tuamu. Meskipun itu hanya sebatas pamitan dan berjabat tangan. Dan kamu juga adalah laki-laki yang selalu aku ceritakan kepada kedua orang tuaku. Perlu kamu ketahui bahwa aku sangat tertutup masalah laki-laki ke kedua orang tuaku. Denganmu, aku juga mulai berani untuk mengenalkan seorang laki-laki ke orang tuaku. Kamu juga yang telah membuat aku untuk percaya kembali kepada seorang laki-laki untuk masalah uang. Sebelumnya, aku telah sangat kecewa dengan seorang laki-laki untuk pinjam meminjam uang. Tapi aku melihat kamu adalah orang yang berbeda. Kamu bisa menepati janjimu. Tapi tidak untuk janji-janji yang lain.
Banyak yang beranggapan bahwa kita memiliki wajah yang mirip. Dan banyak pula yang beranggapan bahwa aku adalah pacarmu. Tapi, banyak pula yang menyayangkan kalau aku berpacaran denganmu. Di sini, aku ingin menjadi seseorang yang lebih dari seorang adik angkatan untuk kamu. Entah sebagai seorang sahabat, seorang pacar atau seorang pendamping hidup. Mungkin ini caraku untuk menyampaikan bahwa aku perhatian denganmu, aku sabar menghadapi kamu dan aku setia untuk menungumu.
Saat kamu berbohong tentang kehadiranmu dengan caramu, saat itu aku merasa sangat kecewa terhadapmu. Tapi setelah kamu hadir dalam acara tersebut dan menemuiku dengan membawa setangkai bunga, disitu aku merasa tersanjung olehmu. Rasa untuk melepaskanmu dan kecewa terhadapmu saat itu juga hilang. Yang ada hanya sebuah senyum lega dan senyum bahagia. Caramu yang membuat surprise yang membuat aku tersentuh, membuat aku untuk tetap bertahan bersamamu. Bahkan ada yang bilang bahwa caramu ini merupakan ungkapan rasa sayangmu terhadap aku. Ada juga yang bilang bahwa kamu itu so sweet telah membuat sebuah rencana seperti itu. Hingga aku merasa benar-benar nyaman dan bahagia untuk berada bersamamu. 
Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk waktumu yang talah kamu sisakan untuk menemaniku, mendukung, menyemangati, mendoakan, menertawakan, membuat aku galau, baper, kecewa, sedih dan menangis. Terima kasih telah menjadi tempat curhat disaat yang genting, disaat benar-benar menbutuhkan masukan, disaat galau dan disaat aku tertimpa maslah. Terima kasih telah mau menerima sifat manjaku, kesalahanku, keegoisanku dan keras kepalaku. Terima kasih telah menjadi teman debat yang kadang suatu masalah itu tidak perlu untuk diperdebatkan. Terima kasih telah menjadi orang yang paling nyebelin untuk aku perjuangkan, aku sayangi dan aku cintai. Terima kasih untuk janji-janji manismu yang sampai saat ini tidak akan terlaksana. Terima kasih telah menbuat aku nangis sekaligus ketawa diwaktu yang bersamaan.
Maaf aku belum bisa untuk membuatmu lebih baik. Maaf aku banyak merepotkanmu, menyusahkanmu dan membuat kamu dibully oleh seniormu. Maaf aku belum bisa menemanimu saat kamu terpuruk, maaf aku tidak ada disampingmu saat kamu tertimpa masalah, maaf aku belum bisa membantumu untuk mencapai tujuan dan cita-citamu. Maaf aku belum bisa untuk mengerti sifat aslimu. Maaf aku tidak paham dengan jalan pikiranmu. Dan maaf aku tidak bisa menghiburmu saat kamu berada di bawah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar