Sabtu, 18 Desember 2021

SURAT TERBUKA UNTUK MANTAN SUAMIKU

Teruntuk pembaca:

Tulisan ini ditulis sebagai terapi karena penulis tidak tahu harus mencurahkan isi hati dan pikirannya pada siapa. Jadi, nikmati tulisan ini sebagai sebuah cerita penulis dan ambil hikmahnya dalam tulisan ini. Tulisan ini murni dari sudut pandang dan perasaan penulis. Selamat membaca 


Istana Melati, Oktober 2021

Hai, mas mantan?

Bagaimana kabarnya sekarang?

Apakah kamu sudah melupakan aku? Aku rasa kamu sudah melupakan aku atau mungkin kamu sudah bertemu dengan belahan jiwamu. Yah, aku sudah tidak berharap apapun lagi darimu. Hanya sebuah rasa syukur yang sering aku panjatkan dalam setiap doaku.

Rasa syukurku bisa terlepas darimu karena aku telah menyadari bahwa bertahan denganmu akan menimbulkan banyak tekanan batin dan tekanan lainnya padaku. Aku berterima kasih padamu karena kamu telah melepaskanku dan mengembalikan aku pada orang tuaku. Aku bersyukur bisa kembali dan berkumpul lagi dengan orang tuaku, yang selalu mendukungku dan selalu mendoakanku.

Aku bersyukur karena aku bisa berkumpul lagi dengan teman-teman yang selalu menyemangatiku dan bisa bercanda dan bergosip ria dengan mereka. Teman-temanku yang hilang ketika kamu hadir dalam hidupku. Karena kamu benar-benar membatasi seluruh komunikasiku dan frekuensi pertemuanku dengan mereka. Teman-teman yang telah aku kenal sejak aku belum mengenal cinta dan ketika kita semua masih berproses dan mereka semua adalah anak baik-baik dan dari keluarga yang baik pula. Hingga ketika kamu melarangku untuk bertemu dengan mereka, jujur aku kecewa. Mengapa? Karena aku yakin teman yang bersamaku adalah orang baik dan mereka orang yang realistis dan berpikiran positif. Kini, setelah terlepas darimu, aku bisa merasakan bahwa mereka memang sahabatku, yang tidak meinggalkanku ketika aku mendapat penghinaan, cacian dan kekecewaan darimu dan keluargamu. Dari mereka pikiranku tersadar, bahwa ya, memang kamu bukan orang yang terbaik buat mendampingiku. Bukan berarti mereka tidak suka dengan mu, tetapi mereka merasa sedih ketika aku harus hidup dengan laki-laki sepertimu. Mereka hanya tahu sebatas tentang kamu, tetapi ketika aku bercerita sedikit tentangmu, mereka mendukung keputusanku untuk berpisah darimu. Dari situ, aku selalu bersyukur, bahwa teman-temanku mendukungku walau itu sangat menyakitkan untukku.

Awal kehilanganmu, merupakan pukulan terberat buat diriku dan mentalku. Bukan hanya aku tapi juga orang tuaku. Mereka terpukul dan juga merasa kecewa. Kamu adalah menantu kesayangan mereka. Menantu yang telah dianggap anak oleh mertuanya. Yang disayangi dan diperlakukan seperti anak kandungnya. Banyak orang ingin ada diposisimu, tetapi kamu malah mengecewakan mereka. Diposisi ini, mentalku benar-benar diuji. Aku dihadapkan dengan dua pilihan yaitu bertahan dengan laki-laki yang aku cintai tetapi telah mengecewakan orang tuaku atau meninggalkanmu dan memilih ke dua orang tuaku. Yah, akhirnya aku memilih ke dua orang tuaku. Dan benar, sekarang aku merakasan, bahwa pilihanku ternyata benar. Hidupku lebih damai dan tenang. Dan mentalku yang awalnya goyang dan pikiranku tidak fokus sekarang mulai membaik. Aku bisa berpikir dengan jernih dan berpikir secara realistis. Memang benar, ketika mental kita down, obatnya mendekatkan diri dengan Tuhan dan semangat dari orang terdekat, orang tua, keluarga dan teman-teman.

Untuk menerima keadaanku yang sekarang, aku harus menyiapkan waktu yang tidak singkat. Berbulan-bulan aku mengurung diri, tidak berinteraksi dengan orang lain dan hanya berinteraksi dengan mereka yang telah mengetahui cerita dan kondisiku. Bahkan untuk bertemu orang lain, aku meminta orang tuaku untuk menemaniku. Di sini peran orang tua sangat penting untuk kesembuhan mentalku. Aku yang dulu terkenal ceria, murah senyum dan terbuka, kini menjadi anak yang murung, pendiam dan tertutup.

Bagiku, Idul Fitri tahun 2021 adalah Idul Fitri terberatku, tetapi ternyata aku salah. Idul Fitri adalah waktuku untuk bangkit dan menjelaskan pada semuanya tentang kondisi dan masalahku. Tahukah kamu apa yang terjadi? Aku banyak mendapat dukungan dan semangat. Yah, aku harus cerai darimu.

Perceraian yang menyimpan banyak cerita, perceraian yang mengundang emosi dan perceraian yang membuka kembali pemikiranku. Dari perceraian ini aku banyak belajar banyak hal, tentang tanggung jawab, keikhlasan dan rasa syukur.

Sayangku, tahukah kamu, ternyata aku dikelilingi oleh orang-orang yang penuh perhatian dan penuh kasih sayang terhadapku. Mereka ingin aku bangkit, melupakanmu dan kembali mengejar mimpiku. Mereka prihatin akan kondisiku. Mereka ingin agar aku sehat dan bugar seperti dulu lagi. Kamu memang benar-benar penghancur jiwa dan ragaku.

Darimu aku berterima kasih dan belajar tentang pelajaran hidup yang dapat aku ambil hikmahnya. Terutama tentang tanggung jawab dan kejujuran. Yah, dua hal itu yang aku tidak dapat darimu. Dan dari dua hal tersebut, aku sudah mengetahui kualitas dirimu dan keluargamu. Sampai sekarang aku masih memegang kata-katamu, “BAIK PAK, KALAU BEGITU SAYA SAJA YANG MENGURUS SURAT CERAINYA” hanya itu kalimat perpisahan yang aku ingat dan tidak pernah terwujud, karena yang mengurus surat cerainya adalah aku. Dalam diriku aku berucap, “TIDAK APA-APA AKU KEHILANGAN UANG SEJUTA DUA JUTA, KERJA SEBULAN DUA BULAN UANG BISA KEMBALI, TAPI KALAU KAMU, KAMU KEHILANGAN HARGA DIRIMU SEBAGAI LAKI-LAKI”.

Memang, melupakanmu butuh waktu bagiku, tapi tenang saja, aku akan mengenangmu sebagai kenangan terbaikku. Akan aku simpan kenangan manis darimu karena aku ingin berdamai dengan keadaan dan memaafkan segala kesalahanmu dan keluargamu. Karena kalau menyimpan keburukanmu, aku kan menjadi seorang pendendam dan aku tidak akan bisa memaafkanmu, aku tidak mau menjadi wanita seperti itu.    

Terima kasih telah pernah sama-sama berjuang dalam sebuah ikatan pernikahan dan akhirnya kita berhenti untuk saling memperjuangkan. Terima kasih telah pernah membahagiakan aku meskipun ada banyak derai air mata yang mengalir. Terima kasih atas segalanya yang telah pernah kamu berikan padaku, kasih sayang, cinta, pengorbanan, kekecewaan, kebohongan, janji palsu, sakit hati dan air mata.

Aku juga tersadar, selama ini aku juga banyak kekurangan dan banyak salah terhadapmu dan keluargamu. Maafkan aku, untuk keegoisan dan pilihan atas hidupku. Perkataan dan perilakuku yang telah banyak mengecewakan dan melukai hatimu, kini aku tersadar bahwa yang terbaik adalah meminta maaf. Meminta maaf padamu, umimu dan juga saudara-saudaramu.

Yah, kita berdua sudah seharusnya saling memaafkan dan berdamai dengan keadaan. Kesalahan kita sama-sama fatal di depan keluarga kita masing-masing, dan aku menyadari itu. Mari berjalan dengan pilihan masing-masing, sudah cukup jangan saling menyakiti lagi.

Jadilah laki-laki yang bertangung jawab ketika kamu memiliki pasangan, bimbing dia seperti kamu membimbingku dan jangan pernah kamu meninggalkan pasanganmu seperti kamu meninggalkan aku dulu. Jaga kesehatan, jangan suka begadang, makan yang teratur, jangan sampai terlilit pinjaman, baik pinjaman yang resmi, pinjaman yang nyata maupun pinjaman online, dahulukan pasanganmu dan hormatilah mertuamu.

Cerita yang sebenarnya terjadi, cukup kita berdua yang mengetahui. Terserah orang lain memandang kita seperti apa, cinta kita, ketulusan kita dan kekecewaan kita hanya kita sebenarnya yang mengetahui. Dan aku percaya itu.

Dari lubuk dari yang paling dalam aku mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya untuk seluruh yang pernah kamu berikan padaku dan aku meminta maaf sebesar-besarnya atas seluruh kesalahanku padamu.

Sayangku, bolehkah aku meminta sesuatu darimu? Sayangku, ikhlaskan aku dan lepaskan aku dari kehidupanmu. Tolong sayangku, jangan ganggu aku dan jangan sakiti aku, keluargaku dan orang-orang yang dekat denganku. Aku hanya berharap seperti itu darimu sayang. Kamu berhak bahagia sayang dengan pilihanmu, dan aku juga berhak bahagia dengan pilihanku. Kita sama-sama masih muda sayang, pikirkan masa depanmu dan keluargamu, jangan sampai kamu menyesal pada akhirnya sayang. Jujur sayang, aku sudah lelah, sudah capek dengan seluruh kelakuanmu dan terormu. Ketahuilah sayang, orang sabar ada batasnya, orang diam ketika dipukul suatu saat pasti akan membalasnya. Tolong sayang, hentikan semuanya, sebelum Tuhan menghentikan semuanya, menghentikan rezekimu, menghentikan kelakuanmu dan menghentikan nafasmu. Aku tidak bercanda. Aku serius. Tapi, kalau peringatanku ini hanya kamu anggap angin lalu, aku ikhlas. Yang penting aku sudah pernah memperingatkanmu. Ini pesan terakhirku sayang. 


Sekali lagi terima kasih dan maafkan aku.

 

❤Salam Sayang❤

 

💕💕💕Wanita yang telah tulus mencintaimu 💕💕💕


Note:

Aku memposting tulisan ini tepat di tanggal kita menikah. 18 Desember. Selamat ulang tahun pernikahan sayang. Terima kasih untuk segalanya. YYY


Tidak ada komentar:

Posting Komentar