Ketika Semuanya Meninggalkan DAKU
Mungkin terasa sangat sedih, ketika semuanya sudah tidak ada dalam satu ruang yang sama lagi, sudah memiliki tujuan hidup masing-masing dan sudah tidak pada tim yang sama lagi. Mereka semua sudah memberikanku banyak ilmu, pengalaman dan nasehat. Ini adalah pengalamanku ketika beliau bapak PPIC meninggal dunia. Tapi, kali ini aku akan bercerita tentang hikmah dari semua yang telah meninggalkanku. Daku tidak akan bercerita tentang kesedihan dan kepedihan selama ini, tetapi lebih pada pelajaran hidup saja.
Yuuuuk disimak.....
Setelah bapak Accounting pergi meninggalkan daku, daku harus bekerja ekstra keras untuk belajar, mamahami dan mengerti tentang perpajakan dan tetek bengeknya. Daku menjadi mengerti tentang sistem dan cara kerja dengan orang pajak. Ilmunya? Pengalamannya? Jangan ditanya, sudah pasti banyak. Daku berkembang? Sudah pasti. Dan daku juga menjadi pribadi yang lebih tahu seluk beluk dan bobroknya perusahaan.
Selain itu, daku bisa cuci mata kalau ke kantor pajak. Jujur yaaa, sebagai wanita normal, daku suka dong sama mas mas yang rapi dan bersih. Bedaaaaaaaa banget sama pria-pria yang ada di kantor maupun yang ada di pebrik. Bikin sepet mata pula. Daku juga banyak mengenal orang dengan berbagai bisnis yang ditekuni ketika mengantri di kantor pajak. Dari situ, daku bisa membuka pikiran dan wawasan yang lebih lagi dong. Satu lagi, daku dapat kenalan juga orang pajak. Hahahahaha
Selain daku mempunyai hak untuk jalan-jalan ke luar kantor dan melihat mas-mas ganteng, daku juga menikmati sejenak udara segar di luar kantor. Ketika kembali ke kantor, daku harus berjuang lagi, berkutat dengan pajak dan ruwetnya administrasi pajak itu sendiri. Ngeluh? Pusing? Pasti! Tapi, tidak ada satu orang satupun yang ingin membantuku dan mengerti keruwetanku. Daku hanya bisa pasrah dan meratapi nasib saja.
Neeexxxxttttt
Setelah berkutat dengan pajak, daku juga harus berurusan dengan HPP. Why? Karena yang tahu hanya daku dan Alm. PPIC saja. Lainnya tidak ada yang mengetahui seluk beluknya. Dan disinilah daku harus berjuang sendirian lagi dan lagi. Sebenarnya, ada sich, yang tahu tentang HPP ini, tetapi, ya begitulah, dia tidak secekatan Alm. PPIC. Si kepala produksi hanya bisa mengomentari tanpa memberi solusi. Mumet daku rasanya.
Si ibu sekretarisnya boos juga ingin enaknya saja. Selalu bilang, “itu ya deritamu, kamu yang diajari!” ingin rasanya daku mengumpat saja. Tapi, alhamdulillah, untuk masalah perhitungan gaji, sudah tidak ada yang protes lagi ke daku. Karena yang mengerjakan gaji orangnya teliti guys, jadi aman kalau masalah gaji.
Tapi, dibalik itu semua banyak hal yang bisa daku pelajari. Terutama kesehatan mental. Ya, walaupun tiap malam harus merasakan demam. Akhir kata ya, daku kaboor karena daku sudah tidak kuat, tidak tahan dan tidak dihargai lagi.
Sebenarnya pingin nulis banyak, tapi ini sudah tahun ke tiga daku meninggalkan itu kantor, jadi daku lupa harus nulis apa. Maafkan daku yaaa.....
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1442 H.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar