Rabu, 04 September 2019

PENGALAMAN MENJADI STAF SERABUTAN PART 2 Bagian Pajak dan Accounting

Pesan untuk semua pembaca, ini adalah sebuah pengalaman, jadi mohon tidak berpikiran negatif dan menganggap semua pekerjaan tentang perpajakan dan accounting itu seperti yang telah diceritakan. Jadi, mohon ini hanya dijadikan sebagai cerita dan hiburan saja. Di luar sana, pekerjaan bagian pajak dan accounting adalah pekerjaan yang menyenangkan, banyak ilmu yang didapt dan karir yang menjanjikan. Selamat membaca. 

Kali ini aku akan menyelesaikan lanjutan dari cerita yang dari Part 1. Yang akan dibahas kali ini adalah kenapa banyak atasan yang resign. Ini cerita yang lumayan membuat gregetan dan menguras pikiran. Karena sejak saat itu, aku mulai menghandle beberapa pekerjaan beliau-beliau.

Setelah hari raya Idul Fitri, barulah satu persatu atasan mulai meninggalkan kantor. Rata-rata mereka sudah tidak kuat untuk menerima beban dan tekanan yang berada di perusahaan tersebut. Yang pertama keluar adalah Head Accounting. Kehilangan besar buat aku. Perlu diketahui, aku di sana itu baru beberapa bulan, dan belum menguasai dan memahami betul apa yang harus aku  kerjakan. Tapi, tiba tiba harus ditinggalkan???? Sakiiit, tapi tak berdarah. Ibarat ditinggalkan pacar, ini lebih sakit lagi. Ilmu yang beliau ajarkan juga aku belum paham betul. Beliau hanya mengajari sekali dua kali saja. Alasan beliau keluar, aku sebenarnya sedikit paham, yaitu beliau kurang dihargai oleh bawahannya dan sering disuruh-suruh oleh bawahannya, terutama salah seorang karyawan senior. Padahal kalau ada apa-apa tentang masalah keuangan dan pihak eksternal, beliaulah yang menyelesaikan. Selain itu, pimpinan juga sering lepas tangan kalau ada masalah dengan pajak dan tekanan yang diberikan oleh beliau juga besar. Masalah di kantor yang setiap hari semakin besar dan saudara beliau yang meninggal dunia dan mempunyai sebuah pabrik, maka sangat kuat buat beliau meninggalkan pabrik ini.

Sebelum beliau keluar kantor tanpa pamit dan pesan, beliau mengajariku sedikit ilmu, tetapi aku tidak mengerti sama sekali. Aku hanya mengerti cara memasukkan data pada e-SPT PPh 21 dan input data pada e-faktur. Itu pun aku harus menulisnya dan beliau mengajariku beberapa kali, aku baru bisa. Sedangkan untuk perhitugan PPh 21, aku bahkan hanya diajarkan beberapa kali dan selebihnya aku harus belajar sendiri. Untuk menghitung PPH 21, aku hanya disuruh mengirim file yang dibutuhkan kemudian beliau yang mengolahnya. File yang telah aku kirim merupakan file yang telah aku olah dari bagian operasional. Untuk mengolah file tersebut, aku belajar dari file bulan sebelumnya dan beberapa file yang telah beliau berikan padaku. Untuk data yang harus dimasukkan dalam e-SPT beliau sudah memberi tanda pada file yang dikirim padaku. Dari file itulah, aku belajar sedikit demi sedikit dan akhirnya mengerti. Alhamdulillah.

Sedangkan untuk aplikasi e-faktur aku sudah sedikit lebih paham. Meskipun saat berjalannya waktu, banyak perubahan pada e-faktur dan aturan pada e-faktur juga diperketat. Untuk menghitung PPN aku hanya dibimbing lewat sebuah WA, dan disuruh mempelajari sendiri file dari bulan sebelumnya. Mengapa? Karena beliau belum sempat untuk mengajariku perhitungannya, jadinya harus lewat WA. Oke, untuk masalah perhitungan PPN sudah beres. Apakah masalah PPN sudah teratasi? Tentu saja belum. Pada bulan 10 kalau gak salah, leptop yang aku gunakan rusak, dan akhirnya aplikasi e-fakturnya tidak bisa digunakan. Mampus.

Solusinya? Aku disuruh oleh mantan Head Accountingku untuk meminta aplikasi lagi ke kantor pajak. Oke. Selesai? Tentu saja ini hanya sementara saja. Karena diemailnya phasspresnya (aku lupa namanya. Untuk orang pajak, maaf yaa, dan bisa dibenarkan di kolom komentar ya guuysss). Dan untuk sementara diisi semuanya Nol-nol dan nanti dibetulkan.

Baik, kita tinggalkan bagian PPN. Selama aku di sana, hatiku setiap hari dag dig dug duuuaaaar. Kenapa? Karena aku takut kalau dapat surat cinta dari Kantor Pajak. Why? Karena aku gak ngerti apa-apa tentang pajak dan perhitungannya. Syeeeediiiih saaaay.
Daaaaaaan

Hal yang aku khawatirkan terjadi. Aku (lebih tepatnya perusahaan) mendapatkan surat cinta, dan isinya aku juga tidak mengerti. Oke, aku menghadap pada pimpinan dan apa kata beliau? Sudah mbak gampang, hubungi mantan head accounting, nanti saya juga ada orang yang bagian bantu ngurusi pajak. Oke, laksanakan. Apa kata head accounting? Datang aja ke kantor pajak mbak, kemudian temui AR nya. Oke, siap. Setelah menemui AR, aku semakin bingung dan semakin tidak mengerti, ya karena aku gak tau awal ceritanya. Yang mengerjakan kan bukan aku, aku gak mengerti apa-apa tentang laporan SPT Tahunan Badan (FYI : Aku lulusan Manajemen, dan untuk kuliah pajak hanya teori saja dan aku juga kurang paham masalah pajak hahaha). Ngeluuuu boooosssss. Dan itu nilai selisih antara SPT yang dikerjakan oleh perusahaan dan Audit AR digitnya banyak. Ini adalah salah satu alasan aku untuk mengundurkan diri.

Aku bercerita masalah kerjaanku pada salah seorang teman kantorku yang seumuran, dan dia hanya bilang, kamu itu sudah nyemplung, dan sudah nyemplung keseluruhan, sudah basah kuyup semuanya. Sudah aku tidak bisa berpikir dengan jernih dan hanya air mataku yang menetes deras. Karena bos juga sepertinya menganggap enteng masalah ini. Setiap diajak ngomong masalah pajak, selalu ya sudah mbak, urus sendiri, hubungi pak ini, pak itu.

Kalau menghubungi mantan head accounting, jujur aku merasa risih, mengapa? Karena orang tersebut sudah tidak ada hubungannya dengan perusahaanku dan aku merasa tidak enak untuk terus meminta bantuan padanya. Beliau juga sudah memiliki kesibukan sendiri. Sedangkan teman kerja sekaligus tangan kanannya bos bilang, itu urusanmu, dan aku gak mau mengurusi masalah itu. Deeeeeerrrrr. Maaammmmpuuuuuussss lah diriku.

Sekali lagi, untuk pembaca, ini adalah pengalaman pribadi dan mencoba untuk dishare, di luar sana pekerjaan bagian pajak dan accounting adalah pekerjaan yang baik, menyenangkan, banyak ilmu yang baru dan karir yang lumayan menjanjikan. Kalau ada kesempatan, penulis juga berkeinginan untuk melanjutan pendidikan di bidang pajak dan bekerja di bagian pajak dan accounting. Dan penulis juga tidak pernah bermaksud merendahkan dan memandang sebelah mata sebuah pekerjaan. Terima kasih telah membaca. Sekali ini hanya berbagi pengalaman. Lanjut Part 3... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar