Pesan
untuk semua pembaca, ini adalah sebuah pengalaman, jadi mohon tidak berpikiran
negatif dan menganggap semua pekerjaan tentang perpajakan dan accounting itu
seperti yang telah diceritakan. Jadi, mohon ini hanya dijadikan sebagai cerita dan
hiburan saja. Di luar sana, pekerjaan bagian pajak dan accounting adalah
pekerjaan yang menyenangkan, banyak ilmu yang didapt dan karir yang menjanjikan.
Selamat membaca.
Kali ini aku akan menyelesaikan
lanjutan dari cerita yang dari Part 1. Yang akan dibahas kali ini adalah kenapa
banyak atasan yang resign. Ini cerita yang lumayan membuat gregetan dan
menguras pikiran. Karena sejak saat itu, aku mulai menghandle beberapa
pekerjaan beliau-beliau.
Setelah hari raya Idul
Fitri, barulah satu persatu atasan mulai meninggalkan kantor. Rata-rata mereka
sudah tidak kuat untuk menerima beban dan tekanan yang berada di perusahaan
tersebut. Yang pertama keluar adalah Head Accounting. Kehilangan besar buat
aku. Perlu diketahui, aku di sana itu baru beberapa bulan, dan belum menguasai
dan memahami betul apa yang harus aku
kerjakan. Tapi, tiba tiba harus ditinggalkan???? Sakiiit, tapi tak
berdarah. Ibarat ditinggalkan pacar, ini lebih sakit lagi. Ilmu yang beliau
ajarkan juga aku belum paham betul. Beliau hanya mengajari sekali dua kali
saja. Alasan beliau keluar, aku sebenarnya sedikit paham, yaitu beliau kurang
dihargai oleh bawahannya dan sering disuruh-suruh oleh bawahannya, terutama salah
seorang karyawan senior. Padahal kalau ada apa-apa tentang masalah keuangan dan
pihak eksternal, beliaulah yang menyelesaikan. Selain itu, pimpinan juga sering
lepas tangan kalau ada masalah dengan pajak dan tekanan yang diberikan oleh
beliau juga besar. Masalah di kantor yang setiap hari semakin besar dan saudara
beliau yang meninggal dunia dan mempunyai sebuah pabrik, maka sangat kuat buat
beliau meninggalkan pabrik ini.
Sebelum beliau keluar
kantor tanpa pamit dan pesan, beliau mengajariku sedikit ilmu, tetapi aku tidak
mengerti sama sekali. Aku hanya mengerti cara memasukkan data pada e-SPT PPh 21
dan input data pada e-faktur. Itu pun aku harus menulisnya dan beliau
mengajariku beberapa kali, aku baru bisa. Sedangkan untuk perhitugan PPh 21,
aku bahkan hanya diajarkan beberapa kali dan selebihnya aku harus belajar
sendiri. Untuk menghitung PPH 21, aku hanya disuruh mengirim file yang
dibutuhkan kemudian beliau yang mengolahnya. File yang telah aku kirim
merupakan file yang telah aku olah dari bagian operasional. Untuk mengolah file
tersebut, aku belajar dari file bulan sebelumnya dan beberapa file yang telah
beliau berikan padaku. Untuk data yang harus dimasukkan dalam e-SPT beliau
sudah memberi tanda pada file yang dikirim padaku. Dari file itulah, aku
belajar sedikit demi sedikit dan akhirnya mengerti. Alhamdulillah.
Sedangkan untuk aplikasi
e-faktur aku sudah sedikit lebih paham. Meskipun saat berjalannya waktu, banyak
perubahan pada e-faktur dan aturan pada e-faktur juga diperketat. Untuk
menghitung PPN aku hanya dibimbing lewat sebuah WA, dan disuruh mempelajari
sendiri file dari bulan sebelumnya. Mengapa? Karena beliau belum sempat untuk
mengajariku perhitungannya, jadinya harus lewat WA. Oke, untuk masalah
perhitungan PPN sudah beres. Apakah masalah PPN sudah teratasi? Tentu saja
belum. Pada bulan 10 kalau gak salah, leptop yang aku gunakan rusak, dan
akhirnya aplikasi e-fakturnya tidak bisa digunakan. Mampus.
Solusinya? Aku disuruh
oleh mantan Head Accountingku untuk meminta aplikasi lagi ke kantor pajak. Oke.
Selesai? Tentu saja ini hanya sementara saja. Karena diemailnya phasspresnya
(aku lupa namanya. Untuk orang pajak, maaf yaa, dan bisa dibenarkan di kolom
komentar ya guuysss). Dan untuk sementara diisi semuanya Nol-nol dan nanti
dibetulkan.
Baik, kita tinggalkan
bagian PPN. Selama aku di sana, hatiku setiap hari dag dig dug duuuaaaar.
Kenapa? Karena aku takut kalau dapat surat cinta dari Kantor Pajak. Why? Karena
aku gak ngerti apa-apa tentang pajak dan perhitungannya. Syeeeediiiih saaaay.
Daaaaaaan
Hal yang aku khawatirkan
terjadi. Aku (lebih tepatnya perusahaan) mendapatkan surat cinta, dan isinya
aku juga tidak mengerti. Oke, aku menghadap pada pimpinan dan apa kata beliau?
Sudah mbak gampang, hubungi mantan head accounting, nanti saya juga ada orang
yang bagian bantu ngurusi pajak. Oke, laksanakan. Apa kata head accounting?
Datang aja ke kantor pajak mbak, kemudian temui AR nya. Oke, siap. Setelah
menemui AR, aku semakin bingung dan semakin tidak mengerti, ya karena aku gak
tau awal ceritanya. Yang mengerjakan kan bukan aku, aku gak mengerti apa-apa
tentang laporan SPT Tahunan Badan (FYI : Aku lulusan Manajemen, dan untuk
kuliah pajak hanya teori saja dan aku juga kurang paham masalah pajak hahaha).
Ngeluuuu boooosssss. Dan itu nilai selisih antara SPT yang dikerjakan oleh
perusahaan dan Audit AR digitnya banyak. Ini adalah salah satu alasan aku untuk
mengundurkan diri.
Aku bercerita masalah kerjaanku
pada salah seorang teman kantorku yang seumuran, dan dia hanya bilang, kamu itu
sudah nyemplung, dan sudah nyemplung keseluruhan, sudah basah kuyup semuanya.
Sudah aku tidak bisa berpikir dengan jernih dan hanya air mataku yang menetes
deras. Karena bos juga sepertinya menganggap enteng masalah ini. Setiap diajak
ngomong masalah pajak, selalu ya sudah mbak, urus sendiri, hubungi pak ini, pak
itu.
Kalau menghubungi mantan
head accounting, jujur aku merasa risih, mengapa? Karena orang tersebut sudah
tidak ada hubungannya dengan perusahaanku dan aku merasa tidak enak untuk terus
meminta bantuan padanya. Beliau juga sudah memiliki kesibukan sendiri.
Sedangkan teman kerja sekaligus tangan kanannya bos bilang, itu urusanmu, dan
aku gak mau mengurusi masalah itu. Deeeeeerrrrr. Maaammmmpuuuuuussss lah
diriku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar